Dalam sebuah diskusi terbatas yang diselenggarakan International Institute for Strategic Studies Singapura di awal 2022, saya sempat berbincang dengan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo yang menjadi tamu pembicara. Saya tanyakan harapannya kepada Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di mana Indonesia menjadi tuan rumah.
Mike Pompeo menjawab bahwa itu pertemuan yang tidak mudah untuk bisa menghasilkan kesepakatan di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan. Perang di Ukraina yang mulai berlangsung 24 Februari menjadi ganjalan terbesar.
“Pasti sangat tidak mudah bagi Indonesia. Anyway, good luck to Indonesia,” kata mantan Menlu AS era Presiden Donald Trump itu.
Di tengah tingginya ketidakpastian mulai dari pandemi covid-19, krisis geopolitik yang mengimbas kepada krisis keuangan akibat melambungnya harga energi dan harga pangan, serta semakin nyatanya ancaman perubahan iklim, banyak pihak yang meragukan KTT G-20 Bali akan membawa terobosan besar. Bahkan polarisasi yang melebar antara Barat di satu sisi serta Rusia, China, dan India di sisi yang lain, memunculkan kekhawatiran pertemuan itu sendiri tidak bisa diikuti 20 negara negara anggota.
KTT G-20 setahun sebelumnya di Italia yang terganggu karena pandemi covid-19, juga tidak bisa berjalan mulus. Semua pertemuan persiapan harus dilakukan secara virtual, baru pertemuan tingkat kepala negara yang dilaksanakan secara tatap muka.
Namun Presiden Joko Widodo sejak menerima estafet tongkat kepemimpinan dari Presiden Italia Mario Draghi pada November 2021, menebarkan sikap optimistis. Sebagai Presidensi G-20, Indonesia menetapkan tema besar KTT “Recover Together, Recover Stronger.” Presiden Jokowi memerintahkan agar pertemuan persiapan dilakukan secara tatap muka dan dilakukan di semua kota besar di seluruh Indonesia.
Koordinator Sherpa Track ditunjuk Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Untuk Koordinator Finance Track ditunjuk Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Wardjiyo. Sementara untuk fokus menjadi Ketua Penyelenggara ditunjuk Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Tiga agenda besar yang ditawarkan Indonesia untuk menjadi fokus KTT G-20 adalah isu kesehatan, ekonomi digital, dan energi bersih.
Singapura yang menjadi Ketua Global Governance Group—Kelompok 30 Negara Kecil dan Menengah yang tidak tergabung ke dalam G-20–secara reguler selalu mengundang troika, tiga negara yang sudah, sedang, dan akan menjadi presidensi untuk menjelaskan mengenai kegiatan G-20. Pada November 2021, saya diminta menyampaikan agenda Presidensi Indonesia bersama Duta Besar Arab Saudi dan Duta Besar Italia.
Sejak awal Tim Sherpa sudah menyiapkan agenda kerja yang akan dilakukan Indonesia selama satu tahun kepemimpinannya. Dalam pertemuan yang dipimpin Menlu Singapura Vivian Balakhrisnan, saya menyampaikan agenda yang sudah sangat terinci itu dan para Duta Besar negara-negara 3G paham akan upaya besar yang dipersiapkan oleh Indonesia.
Proaktif
Kalau KTT G-20 bisa menghasilkan Deklarasi Bali yang di luar ekspektasi banyak negara di dunia, kunci utamanya terletak dari sikap proaktif yang dilakukan Indonesia. Mulai dari Presiden hingga Koordinator Sherpa Track maupun Finance Track serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia sangat aktif melakukan road show untuk menjelaskan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah G-20 maupun B-20.
Kalangan pejabat dan diplomat di Singapura kemudian percaya bahwa KTT G-20 Bali akan berjalan sukses dan tidak akan ada boikot. Apalagi setelah Presiden Jokowi secara khusus bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden China Xi Jinping sebelum KTT G-20. “Hanya Presiden Jokowi yang bisa bertemu Presiden Ukraina, Presiden Rusia, dan Presiden China pada tahun ini. Ini pencapaian yang luar biasa,” puji Dubes Meksiko untuk Singapura, Agustin Garcia-Lopez.
Menlu Retno Marsudi tidak terbilang perjalanannya ke semua negara anggota G-20 untuk mengajak semua pihak mau duduk bersama mencari jalan keluar bagi perbaikan dunia. Menkeu Sri Mulyani dan Gubernur BI Perry Wardjiyo memanfaatkan semua pertemuan bidang moneter dan keuangan dunia untuk mengajak para menteri keuangan agar mau mendahulukan penyelamatan ekonomi dunia daripada kepentingan politik.
Dalam perjalanan pulang dari Pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional di Washington pada 29 April 2022, Menkeu Sri Mulyani menceritakan bagaimana ia mengajak rekan-rekan menteri keuangan G-20 untuk mengingat kembali pembentukan KTT G-20. Pertemuan G-20 yang awalnya hanya pertemuan level Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ditingkatkan menjadi pertemuan para pemimpin negara karena krisis keuangan yang melanda AS pada 2008 dan kemudian menjadi krisis keuangan dunia.
“Saya sampaikan, kalau memang tidak dianggap penting lagi dan mau dibubarkan, silakan saja. Tetapi saya mengingatkan, ancaman krisis keuangan bisa terjadi kapan saja. Kalau sekarang kita bubarkan KTT G-20, kita akan kesulitan untuk mendapatkan forum pertemuan para pemimpin dunia ketika krisis itu datang,” kata Sri Mulyani ketika transit di Singapura.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam kunjungan kerja ke Singapura pada awal Juni 2022, juga tidak keberatan untuk menjelaskan langsung kepada para duta besar negara-negara anggota 3G tentang diplomasi yang dijalankan Indonesia bagi suksesnya KTT G-20 Bali. Dengan penjelasan yang terinci mengenai tiga agenda yang dipersiapkan Indonesia, masyarakat dunia semakin yakin dengan kesungguhan Indonesia untuk mencari jalan keluar bagi perbaikan dunia.
Presiden Jokowi saat menutup KTT G-20 Bali menegaskan, forum ini merupakan forum untuk mencari jalan keluar bagi perbaikan ekonomi dunia, bukan forum politik. Karena kepentingan semua negara di dunia adalah menyejahterakan rakyatnya, maka berbagai perbedaan politik yang ada diminta untuk bisa dikesampingkan dulu.
Peran kalangan dunia usaha untuk ikut berkontribusi bagi perbaikan ekonomi dunia diberi ruang yang lebar. Sebab seperti dikatakan Presiden World Economic Forum Klaus Schwab, peran pengusaha penting untuk mengeksekusi keputusan politik yang diambil. Pertemuan B-20 diselenggarakan di awal KTT G-20 dengan mengundang beberapa pemimpin dunia dan pengusaha dunia.
Pertemuan B-20 bisa berjalan dengan baik karena Kadin melakukan road show ke-16 negara. Pimpinan Kadin sangat aktif untuk mengundang kalangan pengusaha dunia untuk turut serta memikirkan cara membantu dunia keluar dari berbagai persoalan yang mengimpit.
Gotong Royong
Sesuai dengan nilai dasar bangsa Indonesia yang selalu mengutamakan sikap gotong royong, semangat itulah yang sekarang dibawa Indonesia ke masyarakat dunia. Hanya dengan kolaborasi semua negara, maka dunia akan mampu melewati ancaman “perfect storm” di depan.
Belum pernah dunia dihadapkan kepada krisis yang datang bersamaan seperti sekarang ini. Setelah krisis kesehatan akibat pandemi covid-19, semua negara sekarang ini sedang berjuang untuk memulihkan ekonomi negara masing-masing. Ketika dunia sedang tertatih-tatih keluar dari kesulitan, tiba-tiba pecah perang di Ukraina.
Perang di daratan Eropa mengimbas kepada kelangkaan bahan pangan dan energi. Negara-negara Afrika bahkan terancam kelaparan karena tersendat pasokan gandum dari Ukraina. Kelangkaan pangan dan energi melambungkan harga dua komoditas penting itu. Akibatnya inflasi di banyak negara melambung tinggi, tidak terkecuali di negara maju.
Untuk mengendalikan tingkat inflasi, Bank Sentral dunia menaikkan tingkat suku bunga mereka. AS bahkan menjadi negara yang paling agresif menaikkan tingkat suku bunga untuk mengembalikan tingkat inflasi yang berada di sekitar 8 persen agar turun menjadi 2 persen.
Perang suku bunga di dunia dikhawatirkan menimbulkan resesi. Pengangguran yang sudah melonjak karena pandemi covid-19 akan bisa semakin bertambah akibat krisis keuangan yang ada di depan mata.
Padahal pada saat yang bersamaan, semua negara di dunia dituntut menurunkan emisi gas buang untuk mencegah pemburukan akibat perubahan iklim. Penurunan emisi gas buang membutuhkan investasi yang besar terutama untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan.
KTT G-20 Bali sangat membesarkan hati karena memberikan kontribusi untuk mencegah jangan sampai perfect storm menjadi malapetaka bagi dunia. Di Bali, Indonesia berhasil mengurangi ketegangan politik dengan mempertemukan Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin adidaya yang pertama kali sejak Joe Biden menjadi Presiden, mengurangi ketegangan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan.
Kehadiran Menlu Rusia Sergey Lavrov yang tidak diwalk-out oleh negara-negara Barat, membuat Deklarasi Bali akhirnya bisa diadopsi semua negara. Tujuh belas pemimpin dunia bisa saling bertemu secara cair dan bersahabat—baik secara bersama-sama maupun bilateral—memberikan sinyal positif bagi perbaikan dunia karena lebih dari 80 persen produk domestik bruto dunia ditentukan oleh 20 negara ekonomi besar ini.
Deklarasi Bali tentu bukan hasil akhir yang ingin dituju. Tetapi Deklarasi Bali yang dihasilkan merupakan modal bagi 20 negara besar dunia untuk menciptakan iklim yang lebih baik, yang memungkinkan kita semua selamat dari perfect storm. Bukan hanya bagaimana G-20 sepakat mengumpulkan pandemic fund, penguatan digitalisasi, dan pengembangan energi bersih, tetapi juga ada konsep penguatan ketahanan pangan, perdagangan, investasi, dan industri, serta ketenagakerjaan. Inilah sumbangsih yang luar biasa dari Indonesia untuk dunia.


