Asia Bukan Anak Bawang Lagi

Share This Post

Asia Bukan Anak Bawang Lagi

Hingga 1990 sepak bola Jepang tidak pernah dipandang sebagai kekuatan yang pantas ditakuti. Zaman Indonesia sedang berjaya dan menjadi kekuatan yang disegani di Asia, Jepang selalu menjadi bulan-bulanan Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan.

Jepang baru mulai fokus untuk membina persepakbolaan mereka ketika berupaya untuk menjadi negara Asia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. FIFA mensyaratkan tuan rumah Piala Dunia harus memiliki kompetisi sepak bola profesional yang berputar baik, lebih baik lagi apalagi pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.

Kini Jepang menjadi salah satu model negara yang sukses membangun kompetisi sepak bolanya. Hasilnya tercermin dari kesuksesan Tim Samurai untuk selalu bisa lolos ke putaran final Piala Dunia sejak 1998 di Prancis. Tidak hanya itu, Jepang tiga kali mampu lolos ke babak 16 besar Piala Dunia yakni 2002, 2010, dan 2018.

Hanya dua tahun setelah membangun kompetisi yang baik, Jepang memang berubah menjadi kekuatan yang disegani di Asia. Empat kali dalam periode tiga dekade terakhir, mereka mencatatkan diri sebagai juara Asia.

Jepang kini tidak bisa lagi dipandang sebagai kesebelasan anak bawang. Apalagi dari 26 pemain yang dibawa ke Qatar hanya enam pemain yang berlaga di J-league. Selebihnya bermain di Liga Eropa di mana delapan di antaranya berlaga di Bundesliga.

Senjata makan tuan

Dengan begitu banyaknya pemain Jepang yang bertebaran di Liga Eropa, sepak bola Negeri Matahari Terbit semakin matang permainannya. Para pemain Tim Samurai tidak lagi harus merasa minder saat menghadapi tim besar, tetapi justru tampil penuh percaya diri.

Pelatih Hajime Moriyasu sangat cerdas saat harus tampil menghadapi juara dunia empat kali Jerman di pertandingan pembukaan Piala Dunia 2022 Rabu lalu. Lima dari 11 pemain starternya sudah paham dengan permainan Die Mannschaft karena matang di Bundesliga.

Bahkan ketika tertinggal melalui gol penalti Ilkay Gündogan di babak pertama, tujuh pemain pilarnya di lapangan adalah pemain yang biasa bermain di Bundesliga. Ketika akhirnya Jerman harus menelan pil pahit 1-2, dua gol Jepang yang tercipta dalam periode delapan menit pun dihasilkan oleh dua pemain yang berkompetisi di Liga Jerman.

Ritsu Doan yang pertama kali menjebol gawang Manuel Neuer di menit ke-75 adalah gelandang asal Freiburg. Ia datang dari belakang pada saat yang tepat untuk menyambut bola muntah setelah tendangan gelandang asal Eintracht Frankfurt Daichi Kamada berhasil diblok oleh Kiper Neuer.

Gol kemenangan yang dicetak delapan menit kemudian bahkan lebih spektakuler lagi. Takuma Asano yang masuk sebagai pemain pengganti, bermain untuk Bochum. Asano menyambut umpan tendangan bebas cepat dari center-back Borussia Moenchengladbach Ko Itakura ke sektor kiri pertahanan Jerman. Meski dibayangi secara ketat oleh center-back Tim Panser yang posturnya lebih tinggi, Nico Schlotterbeck, Asano dengan tenang masih mampu menggiring bola dan dari jarak satu meter ia bisa menaklukkan kiper kawakan Jerman, Neuer.

Kekalahan menyakitkan yang harus dialami Jerman bukan hanya merupakan salah satu kejutan besar Piala Dunia 2022. Lebih jauh lagi, itu ibarat senjata makan tuan. Para pemain Jepang yang dibesarkan di Bundesliga, mempermalukan Die Mannschaft sendiri.

Pelatih Dieter-Hans Flick dengan jujur mengatakan, kekalahan itu sangat pahit. Kapten kesebelasan Neuer bahkan mengatakan: “Saya benar-benar marah dan frustasi dengan kekalahan ini. Sesuatu yang tidak boleh terjadi,” kata kiper kawakan itu kesal.

Kekalahan itu membuat Jerman dua kali kalah dari tim Asia secara berturut-turut di ajang Piala Dunia. Empat tahun lalu di Rusia, Jerman tersingkir di babak penyisihan setelah dikalahkan Korea Selatan 2-0 pada pertandingan terakhirnya.

Bayang-bayang untuk kembali pulang lebih awal kini terlihat nyata bagi Die Mannschaft. Pasalnya, pada pertandingan kedua Senin dini hari lusa, tim asuhan Hansi Flicks harus bertemu lawan terberatnya, Spanyol.

Furia Roja tampil lebih hidup dan agresif di pertandingan pembukaan dengan mengempaskan Kosta Rika 7-0. Para pemain muda Spanyol pasti ingin segera memastikan lolos ke-16 besar dan itu akan bisa diraih apabila mampu mengempaskan Jerman.

Kebangkitan Asia

Piala Dunia 2022 bukan hanya menjadi kesempatan kedua bagi Asia untuk menjadi tuan rumah festival sepak bola, tetapi menjadi cerminan kebangkitan sepak bola kawasan ini. Tim-tim Asia bukan lagi menjadi tim pelengkap dan tempat mencari poin, tetapi menjadi kekuatan yang perlu diperhitungkan.

Kejutan pertama bahkan dilakukan oleh Arab Saudi. Tim Al Akhdar tidak tanggung-tanggung membungkam juara dunia dua kali Argentina, yang diperkuat pemain terbaik dunia Lionel Messi, 2-1.

Kemenangan mengejutkan Arab Saudi menggugah semangat tim-tim Asia lainnya untuk tidak gentar melawan tim-tim Eropa maupun Amerika Latin yang selama ini mendominasi persepakbolaan dunia. Bukan hanya Jepang yang kemudian tampil luar biasa, tetapi juga Korea Selatan yang dinihari kemarin mampu menahan imbang juara dunia kali, Uruguay 0-0.

Tentu kita berharap kiprah tim-tim Asia tidak berhenti pada pertandingan pertama saja. Semua harus berupaya untuk bisa meraih prestasi lebih tinggi lagi. Bukan mustahil itu akan bisa diraih karena Korsel pernah mampu menembus hingga empat besar di Piala Dunia 2002.

Kunci dari semua keberhasilan itu terletak pada kompetisi dan pembinaan pemain. Paling tidak Jepang dan Korsel membuktikan, kompetisi yang baik menghasilkan pemain-pemain yang berkualitas. Kedua negara itu kini menjadi “pabrik pemain” karena banyak pemain mereka yang diincar klub-klub besar dunia.

Ditariknya pemain-pemain terbaik ke kompetisi yang lebih tinggi, membuat kualitas permainan mereka menjadi lebih tinggi lagi. Para pemain yang melanglang buana itu menginspirasi para pemain muda untuk mengikuti jejak mereka dan ketika critical mass sudah tercapai, kualitas sepak bola negaranya bisa sejajar dengan negara-negara maju sepak bola.

Perjalanan Jepang dan Korea Selatan seharusnya menghardik kesadaran kita bersama di Indonesia. Bahwa tidak ada jalan pintas dalam membangun sepak bola. Termasuk naturalisasi pemain bukanlah jawaban untuk meningkatkan kualitas sepak bola.

Hanya dengan kompetisi yang sehat akan dilahirkan pemain-pemain yang berkualitas. Klub-klub harus menjadi pilar dasar pembinaan. Mereka harus melatih pemain-pemain muda bukan hanya mempunyai fisik dan teknik yang baik, tetapi memiliki karakter. Para pemain harus ditanamkan pemahaman bahwa tidak pernah akan ada prestasi besar, tanpa perjuangan berat. No pain, no gain.

Jepang hanya memiliki 18 klub yang ikut dalam J-League. Bahkan kompetisi di Korea Selatan hanya diikuti 12 klub. Tetapi karena kualitas kompetisinya bermutu bisa dihasilkan pemain sekelas Son Heung-min atau Asano. Semua pemilik klub tidak menghalalkan segala cara untuk menjadi juara, tetapi semua itu harus melalui pembinaan yang berkelanjutan.

Karakter baik pemain Jepang tidak hanya bisa dilihat dari sikap pantang menyerah di tengah lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Semua pemain dididik untuk membersihkan sendiri ruang ganti pakaian setiap selesai pertandingan. Petugas Stadion Internasional Khalifa sampai terkagum-kagum melihat bagaimana bersihnya ruang ganti pakaian Tim Samurai setelah pertandingan melawan Jerman. Bahkan ada origami yang diletakkan di atas meja sebagai ucapan terima kasih telah menggunakan ruang ganti pemain itu. Sebuah pelajaran penting bagi persepakbolaan Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore