Pasti tidak pernah terbayangkan oleh Graham Potter, empat bulan terakhir ini akan begitu menakutkan. Dalam sembilan pertandingan terakhir di Liga Premier, Chelsea tidak pernah meraih sekali pun kemenangan. Bahkan menghadapi Nottingham Forest pun, The Blues hanya mampu bermain imbang 1-1.
Padahal saat ditarik untuk menggantikan posisi Thomas Tuchel pada 8 September lalu, sentuhan Potter begitu luar biasa. Ia mampu menyulap Brighton & Hove Albion menjadi kesebelasan kuda hitam. Tidak tanggung-tanggung di pertandingan pembukaan musim sekarang ini, Brighton mampu mengandaskan raksasa Manchester United 2-1 di Old Trafford. Sebuah sejarah besar yang belum pernah bisa mereka lakukan.
Dalam lima pertandingan pertama Liga Premier, Brighton mampu mengumpulkan 10 poin sehingga membawa mereka di jajaran papan atas klasemen sementara. Bahkan untuk pertama kalinya Brighton mampu mencetak lima gol dalam satu pertandingan saat mereka menundukkan Leicester City 5-2.
Pelatih asal Argentina Marcelo Bielsa menilai Potter sebagai seorang pelatih yang modern dan membawa banyak ide baru kepada permainan sepak bola. “Ia membangun permainan mulai dari kiper dan pemain belakang untuk membiarkan bola kemudian terus bergerak,” puji pelatih yang membawa Argentina merebut medali emas Olimpiade Athena 2004.
Potter dikenal sebagai seorang pelatih yang progresif dan tidak konvensional. Pelatih lawan sulit untuk menebak taktik yang Potter terapkan karena ia bisa mengubah sistem permainan timnya pada satu pertandingan.
Saat menangani Swansea, pernah Potter mengubah sampai 10 kali sistem permainannya dalam 90 menit pertandingan. Pelatih Manchester City Pep Guardiola mengaku sangat menikmati permainan dari tim asuhan Potter.
“Saya merupakan salah satu fans Potter. Brighton menjadi tim yang enak untuk ditonton dan menarik untuk dianalisis. Ia bebaskan anak asuhnya untuk bermain, tetapi tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk tim. Ia berhasil membuat anak asuhannya berani untuk bermain di mana saja,” puji Pep.
Tidak mulus
Dengan begitu banyak pujian dan bahkan BBC sempat menyebut Potter pantas untuk menjadi pelatih nasional Inggris, wajar apabila pemilik baru Chelsea Todd Boehly terpikat. Ia berani membayar ganti rugi 15 juta pound sterling kepada Brighton dan memberikan kontrak 16 juta pound sterling kepada Potter. Bahkan pengusaha asal Amerika Serikat itu mau memberikan kompensasi tambahan 6,5 juta pound sterling untuk tim pelatih Potter.
Di awal musim kompetisi, prestasi Chelsea memang sempat naik-turun. Kegagalan untuk meraih kemenangan di Liga Champions, membuat Tuchel harus kehilangan jabatannya. Padahal pelatih asal Jerman itu sukses membawa The Blues menjuarai Piala Champions setelah pindah dari Paris St Germain.
Potter awalnya memberikan harapan bagi kebangkitan Chelsea. Namun setelah itu prestasinya bukan meningkat, tetapi justru merosot. Kamis malam atau Jumat dinihari, The Blues kembali dipaksa menelan pil pahit kalah 0-1 dari Manchester City.
Apabila masih dimiliki oleh Roman Abramovich, Potter pasti akan tersingkir dari kursi pelatih. Pemilik lama Chelsea asal Rusia itu dikenal tidak mengenal kompromi. Selama 19 tahun memimpin The Blues, Abramovich 14 kali mengganti pelatih klub asal London Barat itu.
Potter dihadapkan kepada persoalan pelik, cederanya para pemain kunci. Ia harus kehilangan gelandang bertahan terbaik dunia N’Golo Kante yang didera cedera panjang. Chelsea juga harus membangkucadangkan Reece James dan Ben Chilwell yang juga mengalami cedera.
Di sisi lain, Chelsea kehilangan ujung tombaknya setelah melepas Timo Werner kembali ke RB Leipzig dan meminjamkan Romelu Lukaku ke Internazionale Milan. The Blues kini tinggal memiliki Kai Havertz dan pemain gaek Pierre-Emerick Aubameyang sebagai pemain nomor “9”.
Tidak usah heran apabila Chelsea kering gol. Hingga 17 pertandingan yang dimainkan di Liga Premier, mereka baru mencetak 20 gol, atau hanya setengah dari gol yang sudah diciptakan pimpinan klasemen Arsenal. Posisi Chelsea pun dua tingkat di bawah klub yang dibesarkan Potter yaitu Brighton.
Potter membutuhkan suntikan pemain yang lebih segar. Salah satu yang menjadi target dalam “jendela transfer” di Januari ini adalah gelandang muda terbaik di Piala Dunia 2022, Enzo Fernandez. Pemain asal Argentina itu kini bermain untuk Benfica, Portugal.
Final dini
Chelsea tidak bisa berlama-lama menyelesaikan persoalan karena kompetisi tidak bisa dihentikan. Bahkan Minggu malam atau Senin dinihari besok, The Blues harus bertandang ke Stadion Etihad untuk kembali bertemu The Citizens di babak ketiga Piala FA.
Berbeda dengan Liga Premier, di ajang Piala FA setiap pertandingan adalah final. Siapa yang kalah otomatis akan tersingkir dari gelanggang. The Blues akan absen gelar kalau kembali harus takluk di tangan Manchester City. Bahkan bukan hanya nir-piala, salah-salah Potter akan terjengkang juga dari kursi pelatih.
Belajar dari kekalahan Kamis lalu, Potter mencoba lebih mendinamisasi lapangan tengah. Denis Zakaria dinilai lebih baik untuk mendampingi Mateo Kovacic daripada Jorginho. Gelandang bertahan asal Italia sudah mulai lamban dan akan dilepas Potter di “jendela transfer” bulan ini untuk digantikan Fernández.
Potter berharap Mason Mount sudah benar-benar pulih sehingga bisa tampil besok malam. Kehadiran Mount akan memperkuat daya dobrak The Blues dan menjadi pendamping yang seimbang untuk Raheem Sterling, Christian Pulisic, atau Hakim Ziyech yang akan beroperasi dari sektor sayap.
Persoalan yang perlu dibenahi Potter adalah di jantung pertahanan. Center-back Thiago Silva sudah terlalu tua dan lamban. Akan sulit bagi pemain asal Brasil untuk mengendalikan ujung tombak The Citizens, Erling Haaland yang sangat cepat. Kalidou Koulibaly harus bekerja keras untuk melepas Silva.
Persoalannya, Manchester City bukan hanya memiliki Haaland yang sudah mencetak 21 gol dalam 16 pertandingan di Liga Premier, tetapi juga Phil Foden serta Riyad Mahrez yang sangat tajam. Apabila kesebelasan tuan rumah bisa mencuri gol di awal pertandingan, Chelsea akan sulit untuk bisa bangkit.
Jantung permainan The Citizens berada di kali Kevin de Bruyne. Meski belum kembali ke permainan terbaik setelah gagal di Piala Dunia 2022, pemain asal Belgia ini sangat tajam membaca permainan. Ia bukan hanya terampil dalam membagi bola, tetapi mampu menjadi ujung tombak yang mematikan.
Manchester City merupakan tim yang sangat solid. Mereka bukan hanya pandai memainkan tempo permainan, tetapi cepat untuk memindahkan blok permainan. Semua pemain bisa membangun satu kesatuan dan menjadi satu hati.
Dibutuhkan kedisplinan tinggi dan ketahanan fisik yang kuat apabila tidak ingin didikte tim asuhan Pep Guardiola. Kalau bisa menutup semua celah yang ada, seperti dilakukan pemain Everton, maka pemain The Citizens bisa frustasi juga.
Pada saat itulah serangan balik bisa efektif untuk membuyarkan pertahanan Manchester City. Kalau Brentford atau Everton bisa melakukan itu, Chelsea pun seharusnya bisa menerapkannya. Inilah ujian sesungguhnya bagi Potter yang disebut-sebut sebagai pelatih masa depan Inggris.



