Senyum Rashford Membesarkan Hati Southgate

Share This Post

Enam bulan lalu nama Marcus Rashford dihapus dari daftar catatan Gareth Southgate. Setelah kegagalan menjadi algojo tendangan penalti di final Piala Eropa 2021 dan cedera bahu yang dideranya, Rashford seperti tenggelam dalam persoalan dan hilang ketajaman.

Bahkan posisinya di Manchester United pun ikut tergeser. Pelatih Ole Gunnar Solskjaer maupun Ralf Rangnick tidak mampu membantu untuk mengangkat Rashford dari keterpurukan. Apalagi setelah kehadiran kembali maha bintang Cristiano Ronaldo yang dengan segala tingkahnya menyita perhatian pelatih.

Kehadiran Erik ten Hag di Old Trafford boleh dikatakan Ronaldo memperburuk pengelolaan Setan Merah. Tetapi bagi Rashford, pelatih asal Belanda itu justru menjadi penyelamat dan mengangkat kembali dirinya dari lembah yang menenggelamkannya.

Rashford merupakan generasi baru Manchester United yang penuh harapan. Sebelum Piala Eropa 2021, ia menjadi panutan anak-anak muda. Ia bukan hanya luar biasa di lapangan, tetapi juga terpuji di luar lapangan. Tiap pekan ia bantu anak-anak dari keluarga miskin untuk bisa tetap sekolah dan mendapat bekal makanan.

Namun kegagalan dirinya untuk menjadi penendang penalti bersama Bukayo Saka dan Jadon Sancho di final Piala Eropa 2021 memantik kemarahan pendukung Three Lions. Ketiganya menjadi korban bullying masyarakat Inggris dengan menggunakan isu ras.

Rashford tidak siap menghadapi cercaan yang menimpa dirinya. Apalagi poster dan coretan di dinding amper di seluruh Kota Manchester menjadikan dirinya sebagai musuh bersama.

Kembali lagi

Piala Dunia 2022 Qatar menjadi titik balik bagi Rashford untuk menemukan kembali dirinya. Kepercayaan yang diberikan Southgate untuk memasukkannya kembali ke dalam tim dibayar dengan penampilan mengesankan seperti dulu ia dikenal.

Hanya 49 detik setelah masuk sebagai pemain pengganti, Rashford menyumbangkan satu gol indah bagi Inggris ke gawang Iran. Pada pertandingan penyisihan grup terakhir melawan Wales, Rashford menjadi  penyelamat Southgate dari kritikan media-media Inggris.

Rashford menembus kebuntuan Three Lions untuk mencetak gol di babak pertama dengan sebuah tendangan bebas yang sangat terarah dan bersarang di pojok kiri atas gawang Danny Ward. Dua kali ia menjebol gawang Wales malam itu, sehingga Rashford sejajar dengan Kylian Mbappe dan Lionel Messi yang sama-sama mencetak tiga gol sampai sejauh ini.

Southgate pun puas melihat senyum Rashford kembali terkembang di bibirnya. “Musim panas lalu saya sengaja bertemu dengan Rashford dan berbicara dari hati ke hati. Saya senang ia sudah kembali lagi dan itu terasa mulai dari tempat latihan. Ini sesuatu yang baik bagi dirinya dan tentunya tim,” ujar Southgate.

Rashford kini menjadi pilihan pertama Southgate sebagai pemain starter. Ia sangat diharapkan untuk terus bersinar termasuk Minggu (4/12) besok saat Inggris memulai perjalanan sistem gugur menghadapi juara Afrika, Senegal.

Perjalanan ke depan bukanlah pertandingan yang mudah untuk dilalui. Piala Dunia 2022 membukakan mata semua pihak bahwa tidak ada yang paling unggul di sepak bola sekarang ini. Lima dari delapan negara juara dunia—Argentina, Jerman, Prancis, Spanyol, Uruguay—sudah merasakan pil pahit di penyisihan.

Meski harus kehilangan pemain terbaik Afrika, Sadio Mane yang mengalami cedera, Senegal tidak kehabisan pemain. Pelatih Aliou Cisse sejak awal kejuaraan sudah menegaskan, giliran Afrika untuk menjadi juara dunia hanya persoalan waktu saja.

 “Kalau saja jatah untuk Afrika tampil di Piala Dunia lebih banyak, pasti peluang untuk menjadi juara jauh lebih besar. Sebab , kualitas sepak bola 10 negara terbaik Afrika, sebenarnya jauh lebih baik dari lima negara Eropa terbawah dari 13 tim yang lolos ke Piala Dunia,” ujar Cisse.

Seperti halnya Senegal, Maroko mampu membukukan tempat ke-16. Bahkan tidak tanggung-tanggung Hakim Ziyech dan kawan-kawan menjadi juara grup dengan menyingkirkan raksasa Eropa, Belgia.

Kalau Inggris tidak waspada, bukan mustahil Senegal akan mampu mengirim mereka pulang awal. Dengan banyak pemain yang tampil di Liga Premier seperti  pemain asal Chelsea Edouard Mendy dan Kalidou Koulibaly, permainan Inggris bukan sesuatu yang asing bagi para pemain Senegal.

Southgate tidak bisa lagi bereksperimen besok malam. Mulai 16 Besar, ia harus yakin dengan 11 pemain terbaik yang ia andalkan. Kebersamaan di antara 11 pemain utama akan menentukan perjalanan Inggris ke depan.

Kejutan besar

Bukan mustahil Piala Dunia 2022 akan melahirkan kejutan besar. Tidak hanya negara Afrika yang mampu membuyarkan kemapanan Eropa dan Amerika Latin, tetapi juga negara-negara Asia.

Jepang melanjutkan kembali kejutan besarnya dengan menaklukkan juara dunia, Spanyol 2-1 Jumat dinihari kemarin. Kemenangan spektakuler Tim Samurai Biru bukan hanya membawa mereka menjadi juara Grup E, tetapi menyingkirkan juara dunia empat kali Jerman.

Untuk keduakalinya berturut-turut, Jerman harus pulang lebih awal dari ajang Piala Dunia. Padahal biasanya mereka selalu bisa melaju hingga empat besar. Jerman selama ini dikenal sebagai negara yang paling konsisten prestasinya di ajang pesta sepak bola dunia.

Kegagalan Jerman untuk bisa lolos ke-16 Besar merupakan konsekuensi dari tidak adanya ujung tombak murni yang mereka miliki. Untuk pertama kalinya Jerman tampil menggunakan false nine. Padahal selama ini mereka selalu mengandalkan ujung tombak murni seperti Uwe Seeler, Gerd Mueller, Klaus Fischer, Juergen Klinsmann, Rudi Voeller, hingga terakhir Miroslav Klose.

Tanpa adanya ujung tombak murni, Jerman kehilangan ketajaman. Saat bertemu Jepang di pertandingan pertama, Die Mannschaft menguasai 73% permainan. Namun hanya satu gol yang bisa diciptakan, itu pun melalui tendangan penalti Ilkay Guendogan. Tidak heran akhirnya mereka dipaksa menelan pil pahit kalah, 1-2.

Pada pertandingan penyisihan terakhir, Jerman hanya mampu mencetak empat gol ke gawang Kosta Rika. Padahal mereka butuh lebih dari tujuh gol tanpa kemasukan untuk bisa bersaing dengan Spanyol mendampingi Jepang ke 16 Besar.

Kalau Jepang bisa menjadi juara Grup dan lolos ke-16 Besar sesuatu yang wajar karena mereka tampil lebih all-out dan berani keluar menyerang. Tidak ada sama sekali perasaan minder dari tim asuhan Hajime Moriyasu meski berhadapan dengan raksasa seperti Jerman dan Spanyol. Mereka bahkan dua kali bangkit dari ketertinggalan untuk menang 2-1.

Di 16 Besar Jepang akan bertemu Kroasia Senin mendatang. Maya Yoshida dan kawan-kawan punya peluang besar untuk melanjutkan petualangan mereka, sebab Kroasia yang dihadapi tidak sehebat seperti empat tahun lalu. Luka Modric dan kawan-kawan sudah semakin menua, sehingga mulai kehilangan ketajamannya.

Mulai malam ini kita tinggal menunggu kejutan besar apa lagi yang akan terjadi. Memang Brasil dengan pemain-pemain mudanya, tinggal menjadi satu-satunya juara dunia yang belum terkalahkan. Dengan suhu udara yang panas, Tim Amerika Latin berpeluang besar untuk kembali menjadi yang terbaik di dunia. Tetapi kita pantas juga menunggu Maroko atau Jepang melanjutkan kejutan mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore