Tidak Sekedar Kritis, Pers Juga Harus Beri Alternatif Solusi​

Share This Post

Ada dua orang yang saya anggap guru penting dalam perjalanan karir jurnalistik saya. Pertama, Almarhum Bapak Rosihan Anwar. Dan kedua, yang paling intens dengan Bapak Jakob Oetama. Menariknya, baik Pak Jakob Oetama maupun Pak Rosihan Anwar, keduanya bukan hanya wartawan tetapi juga pemilik surat kabar.
Selalu disampaikan Pak Jakob, bahwa menjadi wartawan itu menjalankan panggilan hidup, vocatio. Bukan menanyakan, apa yang bisa kita dapatkan, tetapi apa yang bisa kita berikan. Pemikiran-pemikiran Pak Jakob dituangkan saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada, tahun 2003. Pidato pengukuhannya tipis sekali, tetapi sarat esensi.

Menurut Pak Jakob, wartawan bekerja dalam ketakutan dan kegelisahan, in fear and trembling in anguish. Takut dan gelisah dari apa? Yaitu ketakutan dan kegelisahan bahwa karya jurnalistik yang dihasilkan, tidak memberi manfaat untuk pembaca. Lebih takut lagi, jika terjadi misleading, menyesatkan. Apa itu? Yakni, saat pembaca tidak mendapat esensi persoalan dari tulisan kita. Karenanya, berkali-kali beliau ingatkan, baik secara formal maupun nonformal, pahami duduk persoalan, hati-hati dalam memproduksi karya jurnalistik, dan tempatkan esensi dari persoalan, di dalam konteksnya. Konteks. Konteks. Itu menjadi kata kunci.

Satu hal lagi, jangan sekedar membuat berita, lalu selesai. Karya jurnalistik hendaknya bukan hanya publish and be damned, publikasikan dan masa bodoh akibatnya. Saya pernah ditunjuk menjadi Dirut Warta Kota. Setiap jam 6 pagi saya ditelepon Pak Jakob. Apabila ada berita bombastis di Warta Kota, maka pertanyaan Pak Jakob adalah: “Mas Tommy, apakah cari uang harus seperti ini?” Bagi saya, ini menjadi sesuatu yang sangat melekat. Dan teman-teman di Kompas, pasti mengerti betul, tiap karya jurnalistik yang dihasilkan, selalu penuh pertimbangan sebelum dimuat.

Dari Almarhum Pak Rosihan Anwar saya juga banyak belajar. Beliau sering menulis untuk Kompas. Kebetulan, jika artikelnya tidak dimuat, Pak Rosihan akan komplain ke Pak Jakob. Dan Pak Jakob biasanya mengatakan, “Mas Tommy tolong urus itu Pak Rosihan Anwar.” Karena Pak Rosihan menulis dengan mesin tik, maka artikel itu harus diambil di rumahnya. Untuk itu, saya yang sering datang ke rumahnya di Jalan Surabaya. Saat ketemu, Pak Rosihan Anwar biasanya menyampaikan nasihat. Kata beliau, menjadi wartawan bukan sekedar gagah, berani. Tapi harus kritis dan menggugat. Tidak boleh lupa, wartawan itu membawa misi communicator of hopes, harus mampu memberikan harapan.

Cara pandang Pak Rosihan yang kritis ini pernah membuat korannya dibredel tahun 1994. Tetapi, beliau tetap menulis. Sepanjang hidupnya, sikap dan orientasi beliau tak pernah berubah. Hal-hal inilah yang mengingatkan saya, ketika Pak Margiono mengajak brainstorming, berbicara tentang bagaimana menjalankan peran pers di tahun-tahun mendatang.

Pandangan dan pikiran kami bertemu. Teringat apa yang disampaikan Pak Jakob, bahwa peran pers bukan hanya mengkritik dan mengawasi tapi juga memberi alternatif solusi. Kita bukan lembaga yang menyelesaikan segala permasalahan. Tetapi di dalam kritiknya, media harus memberikan pilihan-pilihan solusi. Termasuk memberi kesempatan kepada pejabat negara untuk melakukan yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara.

Saya teringat, tahun 1990 kita melakukan peliputan Asian Games di Beijing, China. Saat itu, melihat betapa tertinggalnya China dari Indonesia. Kita sudah maju beberapa langkah. China masih terbelakang. Namun apa yang terjadi setelah 20 tahun, 27 tahun, 30 tahun kemudian? Kita yang malah tertinggal dari China. Bangsa China sekarang tidak kalah dengan Amerika. Mereka sudah sampai ke bulan, dan mampu membangun kereta api cepat 38 ribu kilometer, terpanjang di dunia. Mereka juga membangun jembatan terpanjang di dunia, menghubungkan Hongkong, Zhuhai, Macau 55 kilometer, dan 6,7 kilometer diantaranya di bawah laut.

Hal-hal inilah yang seharusnya membuka mata kita. Karenanya, melahirkan gagasan dan ide rembuk bersama. Merembukkan, apa yang perlu dilakukan pers, agar bisa ikut andil, memajukan negara. Membuat negara lebih cepat maju, lebih kuat. Tidak kalah dengan negara-negara dan bangsa-bangsa lain yang sudah hebat. Marilah ini jadi bahan pemikiran bersama. Bagaimana pers harus menempatkan diri, bersama-sama memainkan peran tanpa mengorbankan idealisme, integritas dan profesionalitas. Kita harus tetap ingat peran pers sebagai alat kontrol sosial. Tetapi pada ujungnya, mengingat yang diucapkan Pak Jakob, di tengah kekritisan sikap, kita juga harus memberikan alternatif solusi. *

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore