Suatu sore di tahun 2008, sekretaris memberitahukan saya untuk menerima kunjungan rombongan Pemerintah Kota Solo di lantai 6 Gedung MetroTV. Tidak dijelaskan siapa saja nama-nama anggota rombongan yang hadir hari itu.
Saya kemudian menggunakan lift menuju ke ruang pertemuan di lantai 6. Ada lima orang yang sudah hadir di dalam ruangan. Agak di ujung meja yang berbentuk oval seorang lelaki kurus tinggi memperkenalkan diri, “Perkenalkan, saya Joko Widodo, Wali Kota Solo,” sambil kami bersalaman dan bertukar kartu nama.
Wali Kota Solo menjelaskan, maksud kunjungan ke Media Group adalah untuk memperkenalkan kegiatan yang akan diselenggarakan di kotanya. Kegiatan baru yang akan diperkenalkan kepada publik adalah kirab budaya yang agak digelar di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.
Diskusi selama sekitar satu jam kemudian membahas berbagai kemajuan yang telah dicapai Solo.
Joko Widodo yang memimpin Solo sejak 2005, menjelaskan obsesinya untuk membuat kota yang dipimpinnya maju dan modern tanpa harus meninggalkan indentitasnya sebagai kota budaya.
Ia tahu betul kehidupan dari warganya. Begitu banyak warga yang menggunakan trotoar sebagai tempat untuk mencari penghidupan. Sebagai pemimpin kota ia tidak akan mematikan kehidupan warganya, namun sebaliknya ia tidak ingin membuat matapencaharian warga itu membuat kota Solo kemudian terlihat kumuh.
Joko Widodo yang kemudian menyebut dirinya Jokowi—menceritakan bagaimana ia kemudian bernegosiasi dengan warganya. Ia meminta warganya yang berdagang di sepanjang jalan Kota Solo agar mau pindah ke tempat yang disediakan pemerintah kota.
“Tidak mudah Pak Tommy untuk meyakinkan mereka agar mau pindah ke tempat yang saya sediakan. Mereka takut kehilangan para pelanggannya di tempat baru. Saya harus membujuk mereka bahwa pemerintah kota akan membantu mempromosikan tempat yang baru, sehingga para pelanggan pasti tetap akan datang ke tempat itu,” jelas Jokowi.
Ada determinasi yang kuat terpancar dari diri Jokowi. Ia konsisten untuk menjalankan kebijakan yang diyakini akan bermanfaat bagi warganya. Kemampuan untuk melakukan persuasi menjadi kunci keberhasilan sebagai pemimpin. “Memang tidak mudah dan melelahkan untuk meyakinkan warga untuk paham dengan kebijakan yang saya akan lakukan. Saya kadang harus berkali-kali bertemu dan bernegosiasi dengan warga. Tetapi itu pilihan terbaik daripada saya memaksakan kebijakan yang akhirnya ditentang oleh masyarakat. Lebih baik lebih lama sedikit tetapi semua kemudian mendukung kebijakan yang akan dilakukan pemerintah kota,” kata Jokowi.
Mobil Esmeka
Lama kemudian saya tidak pernah bertemu lagi dengan Jokowi. Yang saya tahu kirab budaya yang dijelaskan ketika datang ke Gedung Metrotv, telah menjadi kegiatan rutin tahunan di Solo dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke kota kebudayaan tersebut.
Baru di tahun 2012 nama Jokowi kembali menjadi pembicaraan publik. Ketika itu ia melontarkan gagasan yang berani untuk menjadikan mobil buatan anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Solo menjadi mobil nasional.
Jokowi memang tidak hanya mempromosikan produk anak-anak SMK Solo itu di mulut saja, tetapi menggunakan mobil itu menjadi kendaraan dinasnya. Ia seperti ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa dikerjakan putra-putra Indonesia kalau seluruh warga mau menghargai karya anak bangsa.
Gagasan yang berani itu membuat saya kemudian mengundang Jokowi untuk berbicara di program Metrotv, Economic Challenges. Kekuatan Jokowi adalah sikap penuh percaya dirinya. Ia tidak gentar meski lawan bicaranya adalah mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli dan Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto.
Jokowi berupaya untuk meyakinkan bahwa mobil buatan anak-anak SMK itu pantas untuk didukung. Ia membuktikan keandalan mobil Esmeka itu dengan menggunakannya saat berangkat dari Solo ke Jakarta untuk tampil di program Economic Challenges.
Jokowi sadar bahwa Pemerintah Kota Solo tidak mempunyai kemampuan untuk mendanai mobil Esmeka menjadi produk komersial. Ia hanya berharap inovasi yang dikembangkan anak-anak SMK itu ditangkap oleh para pengusaha yang sudah mapan untuk dijadikan mobil nasional.
Tugas utama pemerintah memang menginspirasi dan mendorong warganya untuk membuat karya terbaik. Selanjutnya peran dunia usaha untuk menjadikan inovasi itu menjadi produk komersial yang feasible untuk dijadikan bisnis.
Usai dialog Economic Challenges, saya sempat mengantarkan Jokowi menuju mobil. Di eskalator saya menanyakan isu tentang kemungkinan dirinya maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Ketika itu memang mulai muncul untuk membawa Jokowi ke panggung yang lebih tinggi. Posisi Gubernur DKI Jakarta disebut-sebut cocok untuk diisi Jokowi yang mulai dikenal orang kuat dalam melakukan persuasi. Jakarta dinilai tidak cukup ditangani dengan pendekatan hard power, tetapi juga soft power karena karakternya yang keras.
Kebetulan Jokowi baru terpilih kembali sebagai Wali Kota Solo periode kedua. Karena gaya kepemimpinan yang persuasif, Jokowi bahkan mendapat dukungan hampir 100 persen warga Solo. “Saya kalau memang diberi kepercayaan maju dalam pemilihan Gubernur Jakarta ya siap saja. Tetapi kan keputusan itu tidak hanya ada pada saya. Bu Mega(wati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan) belum yakin kalau saya akan bisa menang di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta,” ujar Jokowi dengan gaya khasnya yang tanpa beban.
Petahana Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dikenal kuat untuk bisa terpilih kembali. Ia bukan hanya orang Betawi asli, tetapi meniti karier dari bawah di Provinsi DKI Jakarta sehingga pantas untuk diunggulkan.
Maju di Jakarta
Baru pertengahan bulan Maret 2012, Ketua Umum PDI Perjuangan di luar dugaan mengajukan Jokowi sebagai calon gubernur. Dukungan dari Partai Gerindra membuat PDI Perjuangan bisa mengajukan calonnya untuk menantang Gubernur Petahana Fauzi Bowo.
Gerindra sebagai partai pendukung berhak untuk menetapkan calon wakil gubernur. Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengajukan mantan Bupati Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai pendamping Jokowi.
Dengan waktu yang begitu pendek, tidak mudah bagi Jokowi untuk maju ke pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Apalagi ada enam pasangan calon yang maju yaitu Jokowi-Ahok, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hidayat Nur Wahid-Didiek Rachbini, Faisal Basri-Biem Benyamin, dan Hendardji Supandji-Ahmad Riza Patria.
Beruntung sistem pemilihan Gubernur DKI Jakarta mengharusnya pemenang untuk mendapatkan dukungan suara 50 persen plus satu. Dengan banyak calon yang bersaing, maka pilkada harus dilakukan dua putaran dan Jokowi bisa lolos ke putaran kedua untuk head to head dengan Gubernur Petahana Fauzi Bowo.
Putaran kedua pemilihan kepala daerah DKI Jakarta membuat Jokowi mempunyai waktu tambahan untuk mencari dukungan masyarakat. Namun dengan dukungan dana yang terbatas, berat juga perjuangan yang harus dilalui Jokowi. Apalagi di putaran kedua Fauzi Bowo didukung oleh semua partai politik Yang lain. Wakil yang dipilih pun merupakan orang Betawi dari Partai Demokrat yakni Nachrowi Ramli.
Di sinilah kita melihat Jokowi merupakan pemimpin yang mempunyai guts, punya nyali. Tidak semua orang mempunyai keberanian untuk mengambil risiko yang begitu besar. Sebab kegagalan dalam pertarungan di ibu kota akan membuat orang masuk kotak selamanya.
Satu yang dimanfaatkan Jokowi adalah kekecewaan masyarakat Jakarta terhadap banjir yang sering melanda kota dan kemacetan yang tidak pernah ada solusinya.Kurangnya kepedulian dan empati petahana kepada masyarakat dimanfaatkan Jokowi dengan lebih banyak menyapa.
Yang paling fenomenal kampanye yang dilakukan Jokowi adalah ketika banjir melanda Jalan Muhammad Husni Thamrin. Ia datang dengan menggunakan gerobak dan dengan baju kotak-kotak serta celana panjang yang digulung ke atas, Jokowi membantu warga yang terjebak banjir.
Bersama Najwa Shihab, saya kebetulan diminta menjadi pemandu debat putaran kedua yang diselenggarakan MetroTV. Meski baru mengenal Jakarta, Jokowi mampu melayani Gubernur Petahana Fauzi Bowo untuk mengadu program yang bisa membuat ibu kota menjadi lebih baik.
Dukungan dari warga membuat kampanye Jokowi dan Ahok bisa menjadi lebih marak. Meski didukung dana yang terbatas, Jokowi mampu memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan program kerjanya.
Di luar dugaan banyak orang, Jokowi mampu memenangi pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan landslide. Jokowi kemudian menjadi pujaan publik Jakarta. Saya merasakan ketika hadir pada pembukaan Trade Expo bulan November 2012 di Jakarta International Expo. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi harus mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka pameran internasional tersebut.
Ketika Tia Diran sebagai pembawa acara menyebutkan selamat datang kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, seluruh hadirin memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Sambutan hadirin jauh lebih riuh daripada ketika pembaca acara menyebut nama Presiden SBY.
Menjadi Capres
Sekitar dua tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi memfokuskan diri untuk memperbaiki fasilitas umum. Sungai-sungai yang menyempit karena pembangunan yang menyalahi aturan ditata ulang. Alat pengeruk didatangkan untuk mengangkat sedimentasi yang mengganggu aliran sungai.
Jokowi semakin menjadi pujaan masyarakat karena tidak segan-segan turun ke tempat-tempat yang tidak pernah didatangi pejabat. Ia mau turun ke gorong-gorong hanya untuk mengetahui mengapa penyumbatan sampai terjadi. Waduk-waduk yang ada di Jakarta dinormalisasi agar menjadi tempat penampungan air raksasa. Waduk Pluit merupakan karya yang paling fenomenal karena mengubah tempat yang sebelumnya kumuh dan biang banjir menjadi waduk yang menyenangkan untuk warga Jakarta berekreasi.
Keputusan paling berani dilakukan Jokowi adalah memulai pemancangan proyek moda rakyat terpadu. Proyek yang sudah digagas sejak zaman Presiden Soeharto dan diputuskan untuk dilaksanakan oleh Gubernur Sutiyoso benar-benar bisa mulai dikerjakan.
Berbagai perubahan yang terjadi di Jakarta membuat nama Jokowi kemudian dimunculkan sebagai calon presiden untuk menggantikan Presiden SBY yang akan habis masa jabatannya pada Oktober 2014. Memang banyak yang meragukan Jokowi bisa menjadi calon presiden karena Ketua Umum PDI Perjuangan masih berambisi untuk maju dan Jokowi pun dinilai belum cukup pengalaman dalam perpolitikan nasional.
Sekali lagi Jokowi menunjukkan guts-nya. Ia tidak menunjukkan sikap rendah diri ketika dipercaya Ketua Umum PDI Perjuangan menjadi calon presiden. Ia bahkan mampu mengandeng Partai Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa untuk mendapatkan dukungan 20 persen suara agar bisa mencalonkan secara resmi sebagai presiden.
Pilihan untuk berpasangan dengan politisi senior yang juga mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla memberi modal yang kuat bagi Jokowi untuk bersaing dengan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Publikasi internasional membantu mengukuhkan Jokowi sebagai orang yang pantas memimpin Indonesia.
Menjelang Pemilihan Presiden, Jokowi memang ditetapkan sebagai Man of The Year oleh Majalah Time. Berbagai gebrakan untuk blusukan ke bawah membuat Jokowi menjadi perhatian media-media internasional. Dengan modal kerja nyata itulah Jokowi mampu memenangi Pemilihan Presiden Republik. Tanggal 20 Oktober 2014, Jokowi dilantik menjadi Presiden Ketujuh Republik Indonesia. Sesuai pelantikan di Gedung MPR, Jokowi membuat tradisi baru dengan melakukan kirab dari Bundaran Hotel Indonesia hingga Istana Merdeka menggunakan kereta kencana.
Dukungan minimal
Dengan dukungan politik yang minimal di Dewan Perwakilan Rakyat, tidak mudah bagi Jokowi untuk menjalankan pemerintahan. Padahal banyak agenda yang ingin dilakukan Jokowi khususnya di bidang infrastruktur. Sejak berakhirnya era Orde Baru sangat minim pembangunan infrastruktur yang kita lakukan. Jangankan di luar Jawa, di Jawa saja prasarana yang tersedia jumlahnya terbatas. Padahal ekonomi Indonesia terus bertumbuh dan masuk ke dalam jajaran 20 negara ekonomi terbesar di dunia.
Di sinilah ujian sesungguhnya dihadapi Jokowi dalam membangun Indonesia yang lebih maju. Dengan gayanya yang kalem, ia mulai melakukan manuver politik. Jokowi paham bahwa orientasi partai politik adalah kekuasaan dan kekuasaan itu adalah kursi di kabinet.
Beberapa pimpinan partai politik dicoba diajak berkomunikasi. Yang pertama kali harus dijinakkan tentu partai pesaing utama yakni Partai Gerindra. Jokowi menerapkan filosofi Jawa, andhap asor. Tidak tanggung-tanggung ia mendatangi kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk membangun rekonsiliasi nasional. Dalam filosofi Jawa memang orang ibaratnya “dipangku, mati”. Jokowi mendapatkan sambutan dari Prabowo untuk bersama-sama membangun Indonesia. Setelah itu tiga sampai empat kali keduanya saling berkunjung.
Setelah itu Jokowi mencoba membujuk partai-partai yang sedang berseteru di dalam untuk saling berdamai. Bahkan bukan hanya berdamai di dalam partai, tetapi juga bergabung dengan pemerintahan. Tiga partai yang kemudian masuk ke dalam koalisi pemerintahan yaitu Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Amanat Nasional.
Dengan dukungan mayoritas di dalam parlemen, berbagai program pemerintah lebih mulus dilaksanakan. Kebijakan penyertaan modal negara ke Badan Usaha Milik Negara misalnya, bisa lebih mudah dilakukan. Dengan itulah berbagai infrastruktur mulai bendungan, saluran irigasi, jalan nasional, jalan tol, bandar udara, pelabuhan bisa dibangun di seluruh negeri.
Jokowi memanfaatkan momentum pergantian kepemimpinan nasional untuk mengubah rezim alokasi anggaran. Subsidi langsung seperti untuk bahan bakar minyak dihapuskan, sehingga pemerintah bisa mengalokasikan anggaran untuk pembangunan. Sekarang ini setidaknya Rp 410 triliun dari anggaran pendapatan dan belanja negara sebesar Rp 2.200 triliun dipakai untuk pembangunan infrastruktur.
Akibatnya kita merasakan derap pembangunan secara besar-besaran mulai dari Sabang hingga Merauke. Jalan tol Jakarta hingga Surabaya bahkan sudah terbentang sehingga jarak tempuhnya hanya memerlukan waktu sekitar delapan jam. Untuk pertama kalinya bangsa Indonesia tidak lagi tergantung dari jalan yang dibangun Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, tetapi karya anak bangsa sendiri.
Politik luar negeri
Tidak hanya ke dalam negeri, Jokowi pun membangun relasi dengan pemimpin bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia tidak lagi hanya mau bertumpu kepada Amerika Serikat sebagai partner dagang, tetapi juga mulai merangkul raksasa baru ekonomi dunia yaitu Tiongkok.
Jokowi tidak mau hubungan dengan negara lain hanya terbatas pada tataran diplomasi semata. Sebagai orang praktis, ia ingin ada hasil nyata yang bisa segera dirasakan oleh kedua negara.
Paling terasa adalah hubungan dengan Tiongkok yang sedang berupaya untuk menyaingi hegemoni AS. Kebetulan Pemimpin Tiongkok Xi Jinping sangat antusias untuk mendorong direalisasikannya kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Berbagai proyek kerja sama diminta untuk dipercepat pelaksanaan.
Bahkan tidak seperti umumnya negara besar lainnya yang panjang prosedur birokrasinya, Tiongkok berlari cepat untuk memanfaatkan kerja sama ekonomi yang ditawarkan Indonesia. Bahkan tata cara pembiayaannya dibuat tidak umum seperti pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang tidak membutuhkan jaminan negara.
Investasi Tiongkok di Indonesia sebenarnya sudah mulai terjadi di era pemerintahan Presiden SBY. Beberapa proyek pembangkit listrik menggunakan skema turnkey project. Namun orang tidak pernah terlalu mempersoalkan meski semua tenaga kerjanya berasal dari Tiongkok.
Sekarang ini karena proyeknya lebih masif, mulailah dimunculkan sikap xenophobia. Bahkan isunya dikait-kaitkan dengan sejarah era Orde Lama ketika dunia sedang dihadapi era Perang Dingin antara kapitalisme dan komunisme. Tiongkok dianggap terlibat dalam timbulnya Pemberontakan PKI pada tahun 1965.
Mulailah Jokowi ditarik ke dalam isu yang paling sensitif yaitu komunisme. Bahkan tuduhan itu dirancang secara terus menerus agar bisa dibawa ke dalam ajang Pemilihan Presiden 2019. Latar belakang kedua orangtuanya pun ikut diotak-atik.
Memang isu itu sangat mengganggu Jokowi dan menurunkan citranya. Bahkan karena dilakukan secara sistematis dan masif merongrong kerja yang ia lakukan. Sebagian orang berupaya untuk menihilkan kerja yang lebih empat tahun dilakukan Jokowi untuk membangun Indonesia.
Narasi pembangunan infrastruktur yang mubasir pun terus digaungkan. Ketergantungan kepada luar negeri dianggap sebagai menjual negara. Kita lupa bahwa infrastruktur yang ada sebelumnya begitu buruknya sehingga membuat biaya logistik menjadi mahal. Pembangunan hingga ke tingkat desa merupakan upaya kita untuk memakmurkan kehidupan masyarakat.
Kita lupa bahwa semua itu membutuhkan proses. Pemanfaatan infrastruktur yang sekarang tersedia tidak bisa diukur dalam hitungan bulan. Infrastruktur bukan hanya dibangun untuk kepentingan mudik lebaran saja, tetapi untuk mengantisipasi Indonesia ke depan yang industrinya akan semakin maju.
Memang Jokowi bukanlah orator seperti Bung Karno yang bicaranya bisa memukau danmeyakinkan orang banyak. Akibatnya, kerja keras yang dilakukan pada masa kepemimpinannya yang pertama tidak diapresiasi oleh semua orang. Tidak sedikit yang menilai apa yang dilakukan selama ini merupakan kemubasiran.
Memukau pemimpin dunia
Namun bagi masyarakat dunia, apa yang dilakukan Jokowi memunculkan kekaguman. Bagaimana sebuah negara yang anggarannya terbatas mampu membangun berbagai macam infrastruktur dasar dalam waktu yang begitu pendek.
Gaya kepemimpinan Jokowi yang banyak menyapa rakyat dilihat juga sebagai sebuah keunikan. Nyaris tidak ada batas yang dibuat sehingga warga bisa dengan bebas bercengkerama dengan pemimpinnya. Tidak ada ketakutan terhadap keamanan dirinya ketika Jokowi berada di tengah kerumuman orang yang begitu banyak.
Apalagi saat tampil dalam pertemuan internasional, Jokowi mampu mengemas pidato dengan cara yang berbeda. Ia tidak hanya sekadar membaca teks tetapi menggabungkannya dengan gambar visual sehingga orang lebih mudah memahami dan membuat pidatonya menjadi hidup.
Salah satu yang membuat orang begitu terpukau adalah ketika Presiden Jokowi berbicara di depan peserta pertemuan tahunan Bank Dunia-Dana Moneter Internasional di Bali akhir tahun 2018. Ia menggambarkan keadaan dunia sekarang ini seperti film “Games of Thrones”. Kita saling berkelahi di antara kita sendiri, tanpa menyadari musuh besar yang mengancam kita semua.
Baik Presiden Bank Dunia Kim Jim-Jong maupun Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde memuji pidato Jokowi. Mereka tidak menyangka seorang Presiden bisa menemukan sebuah perumpamaan yang begitu pas, sehingga bisa menyentakkan kesadaran para pemimpin dunia untuk tidak saling berkelahi sendiri.
Begitu banyak para pemimpin dunia yang kemudian ingin berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Jokowi. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz sampai memperpanjang kunjungan ke Indonesia dengan berlibur satu pekan di Bali karena tersanjung oleh sambutan Jokowi yang memayungi sendiri dirinya saat kehujanan di Istana Bogor.
Ketulusan Jokowi memang merupakan sebuah kekuatan yang tidak dimiliki semua orang. Bahkansebagai pemimpin pun ia tetap bersikap apa adanya. Para pemimpin dunia pun tidak merasa direndahkan ketika diajak untuk datang ke Pasar Tanah Abang yang pengap dan padat. Mereka justru menikmati karena itulah keaslian kehidupan Indonesia.
Jokowi memang telah menjadi sosok yang diakui dunia. Bahkan patung lilinnya dibuat museum dunia. Ia menyamai Bung Karno yang lebih dulu diakui sebagai pemimpin yang menginspirasi kemerdekaan bagi banyak negara yang terjajah.
Meski harus menghadapi banyak cercaan di media sosial dalam negeri, Jokowi tetap melangkah tegar untuk memimpin Indonesia. Bersama Ma’ruf Amin, ia bahkan mendapat mandat untuk memimpin Indonesia periode lima tahun kedua.
Sepuluh tahun lalu hampir tidak ada orang yang percaya bahwa ia akan menjadi Presiden Indonesia. Apalagi ia datang dari kelompok rakyat biasa. Namun kini Jokowi mampu membuktikan bahwa ia adalah seorang pemimpin yang berupaya keras membawa Indonesia naik tinggi di kancah dunia dan kiprahnya itu dinantikan oleh masyarakat dunia.
Momentum Asian Games
Bukanlah mustahil Indonesia menjadi negara besar karena sekitar 65 persen dari 265 juta rakyatnya adalah kelompok produktif. Kalau mereka bisa digerakkan menjadi satu kekuatan, maka daya dorongnya akan sangat dahsyat.
Visi Indonesia yang disampaikan Presiden Jokowi di Sentul, yang paling utama harus dikerjakan adalah penguatan sumber daya manusia. Bukan hanya sekadar kapasitas dan kompentensinya yang harus ditingkatkan, tetapi mentalitas untuk mau untuk selalu berpikir positif dan memiliki semangat “pasti bisa”.
Salah satu kelemahan yang masih ada pada bangsa ini adalah sikap untuk mengumbar kesalahan dan kekurangan orang, sebaliknya begitu pelit untuk memberi apresiasi kepada keberhasilan orang lain. Sikap iri hati akhirnya lebih banyak menciptakan aura yang negatif dan seakan-akan kita tidak pernah bisa meraih prestasi yang tinggi.
Keberhasilan penyelenggaraan Asian Games XVIII 2018 harus dijadikan modal untuk mengubah sikap bangsa ini agar selalu memiliki optimisme. Kita sudah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi penyelenggara yang hebat dan prestasi anak bangsa pun sangat membanggakan.
Dengan semangat “pasti bisa” kita pun harus yakin bahwa bangsa ini pasti bisa menembus jajaran kelompok negara maju. Kita tinggal meneguhkan sikap percaya diri dan terus memacu diri untuk meraih prestasi yang lebih baik di segala bidang.
Jokowi mengajak seluruh warga bangsa ini berlomba-lomba meraih kemajuan. Ia sudahmencanangkan lima program dari Visi Indonesia yaitu memperluas pembangunan infrastruktur hingga ke pusat-pusat produksi; menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul melalui perbaikan pendidikan dan kesehatan; menarik investasi yang lebih besar untuk membuka lapangan pekerjaan; melakukan reformasi birokrasi agar lebih adaptif, inovatif, produktif, dan kompetitif; serta mengefisienkan anggaran negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Sekarang waktunya kita bekerja untuk meraih cita-cita besar itu.


