Revolusi yang Seharusnya​

Share This Post

Meminjam apa yang dikatakan Albert Einstein, “We can’t solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them.” Bagaimana caranya kita belajar dari masa depan? Apakah mungkin hal seperti itu dilakukan? Salah satunya apa yang dilakukan Per Carstedt di Swedia.

Setelah mengikuti KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil tahun 1992, Carstedt, seorang dealer mobil Ford di Swedia Utara merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Bumi. Ia melihat betapa perkembangan dan sekaligus perusakannya yang terjadi 150 tahun terakhir ini begitu masif, melebihi apa yang pernah terjadi 200.000 tahun sebelumnya. Apabila tahun 1900 jumlah penduduk dunia baru 1,5 miliar orang, sekarang ini jumlahnya berlipat menjadi 6,5 miliar orang.

Langkah besar dimulai Carstedt ketika ia dihubungi rekannya dari Swedish Ethanol Development Foundation untuk mendatangkan mobil berbahan bakar etanol yang 85-90 persen emisi buangnya tidak menimbulkan efek rumah kaca. Persoalannya adalah bagaimana kemudian ia meyakinkan pihak produsen Ford di AS untuk mau menjual mobil “flexi-fuel” ke Swedia, mengajarkan masyarakat Swedia untuk mau mengganti mobil berbahan bakar fosil menjadi etanol, dan mengimbau para pengusaha mau membangun stasiun pengisi bahan bakar etanol.

Semua itu ibarat “ayam dan telur”. Namun perjuangan Carstedt tidak sia-sia karena Swedia yang tahun 1970 masih mengandalkan 77 persen energinya dari minyak, sekarang ini hanya tinggal 30 persen. Swedia menjadi negara terdepan yang bisa memenuhi “Tantangan 80-20” yakni sebuah agenda bersama dunia untuk mengurangi emisi buang hingga 80 persen dalam periode 20 tahun ke depan.

Carstedt tidak harus memiliki gelar Ph.D untuk bisa melihat sistem yang lebih besar. Dalam upaya menciptakan teknologi yang lebih ramah lingkungan, ia juga berhasil membuat model yang dinamakan Green Zone, di mana ia mampu memadukan showroom mobilnya dengan restoran dan stasiun pompa bahan bakar. Kelebihan panas yang dihasilkan dari dapur restoran ia salurkan untuk menghangatkan showroom dan stasium pompa bahan bakar sehingga mampu menghemat 80 persen energi yang dibutuhkan. Banyak pengusaha dari berbagai penjuru dunia belajar konsep Green Zone yang dibuat Carstedt. Konsep ini sekarang ini bahkan dijalankan oleh negara-negara seperti AS, China, India, Brasil, dan Meksiko.

Indonesia bisa melakukan itu kalau memang ada kemauan politik yang kuat. Sebagai negara yang tidak pernah terputus disinari Matahari, negeri ini tidak boleh kekurangan energi. Kita bisa olah secara langsung dengan mengembangkan solar cell atau secara tidak langsung melalui proses fotosintesis untuk mengolahnya melalui biofuel. Minyak kelapa sawit merupakan salah satunya. Yang lain melakui bio ethanol seperti yang dilakukan Brasil dan Swedia. (Suryopratomo, Metrotv)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore