Berkaca Dari Tim Garuda Merah-Putih

Share This Post

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” (Albert Einstein)

Kejuaraan Dunia Sepak Bola U-20 di Tokyo, 1979, melahirkan seorang bintang muda berbakat, Diego Armando Maradona. Kehebatan Maradona di turnamen itu memberikan tekanan kepada Pelatih Argentina, Cesar Luis Menotti untuk memasukkan pemain yang dijuluki “El Pibe de Oro” ke dalam tim nasional di Piala Dunia 1982.

Argentina pada 1978 untuk pertama kalinya mampu mengangkat Piala Dunia. Para pecinta sepak bola negeri berharap, Argentina bisa mengulanginya di Piala Dunia 1982, Spanyol. Kehadiran bintang muda Maradona—yang berusia 22 tahun ketika itu—diyakini akan membuat Tim Tango semakin kuat untuk mendampingi pemain senior seperti Daniel Passarella dan Mario Kempes.

Ajang Piala Dunia 1982 ternyata bukanlah panggung besar bagi Maradona. Ia justru menghadapi mimpi buruk di Spanyol. Pada pertandingan “perempat final” melawan Brasil, Maradona mendapatkan kartu merah dan diusir dari lapangan. Argentina pun gagal mempertahankan gelar.

Baru empat tahun kemudian di Meksiko, Maradona menjelma menjadi mahabintang. Ia benar-benar menjadi pahlawan bagi Tim Tango dengan membawa Argentina mengangkat Piala Dunia untuk keduakalinya.

Pengalaman Maradona menggambarkan bahwa menjadi mahabintang itu harus melalui sebuah proses. Bahkan proses itu tidaklah pendek. Dengan bakatnya yang begitu luar biasa, Maradona pun membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menggapai puncak kejayaan.

Bangsa Indonesia tidak boleh larut dalam kesedihan, apalagi patah semangat, melihat tim Garuda Merah-Putih gagal mengangkat Piala AFF 2020. Kekalahan dari Thailand bukanlah akhir dari perjalanan. Ini seharusnya menjadi cambuk untuk bangkit berdiri dan mengasah lagi kemampuan melalui latihan yang lebih keras lagi.

Dengan materi pemain muda—rata-rata berusia 23 tahun—tim Merah-Putih masih dalam proses untuk menjadi bintang dan sebuah tim yang lebih kokoh. Thailand yang menjadi juara, sempat terseok juga prestasinya. Sebelum tampil di Piala AFF, mereka hanya mencatat lima kemenangan dari 20 pertandingan yang dimainkan. Thailand gagal untuk melaju ke putaran akhir penyisihan Piala Dunia 2022 Grup Asia. Namun dengan kesabaran, kini Tim Gajah Perang menjadi tim yang matang, di usia keemasan para pemainnya.

Melanjutkan pembinaan
Pekerjaan rumah yang harus dilanjutkan setelah Piala AFF 2020 adalah melanjutkan pembinaan pemain dan tim. Bagaimana Indonesia bisa menjaga pemain-pemain berbakat yang dimiliki sekarang ini untuk terus dibina dengan benar agar menjadi sebuah tim yang semakin matang dan disegani di ajang Piala Dunia 2030 yang akan datang.

Mengapa harus begitu lama? Karena puncak kematangan seorang pemain sepak bola akan terjadi pada usia antara 26 tahun hingga 28 tahun. Sekarang ini kita memiliki pemain seperti Elkan Baggott dan Ramai Rumakiek yang berusia 19 tahun. Ada Alfeandra Dewangga, Witan Sulaiman, dan Pratama Arhan yang berusia 20 tahun. Egy Maulana Vikri berusia 21 tahun. Kalau kita mampu membina mereka dengan benar, maka di ajang Piala Dunia 2030, mereka akan menjadi andalan tim nasional Indonesia.

Kuncinya terletak pada sistem pembinaan yang benar. Kita membutuhkan pelatih dan tim pelatih yang memiliki konsep pembinaan yang memang teruji. Mereka mampu membentuk fisik pemain yang tangguh, teknik dasar sepak bola yang benar, dan kecerdasan untuk menganalisis permainan di lapangan serta bagaimana cara mengatasi kesulitan.

Pelatih Manchester United Ralf Rangnick saja sekarang mencoba membenahi kembali fisik para pemainnya agar mampu tampil menekan selama 90 menit pertandingan. Ia membenahi lagi teknik sepak bola agar tidak ada salah passing, salah posisi, dan salah menendang. Ketiga, ia mendatangkan pelatih mental karena sepak bola membutuhkan kecerdasan otak di samping kekuatan otot.

Indonesia tidak memiliki banyak pelatih yang memiliki kualifikasi seperti itu. Sekarang kita beruntung mendapatkan pelatih sekelas Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan ini memiliki rekam jejak yang cemerlang baik ketika menangani klub maupun tim nasional Korea Selatan.

Ia benahi fisik para pemain asuhannya. Semua pemain bisa merasakan bagaimana setiap kali latihan, mereka digembleng habis-habisan, sampai ibaratnya kehabisan nafas. Shin Tae-yong tidak pernah mau memberikan toleransi untuk itu dan “sikap tega” seperti inilah yang jarang dimiliki pelatih nasional.

Kedua, para pemain dibenahi lagi cari menendang bola, melakukan passing, mengambil posisi berdiri, serta menggiring bola. Sepertinya sederhana, tetapi itulah esensi berlatih sepak bola. “Practice make perfect.”

Di Piala AFF kita bisa melihat hasilnya, para pemain Indonesia lebih mengerti bagaimana bermain sepak bola yang seharusnya. Kapan mereka harus memainkan tempo lambat dan kapan bermain cepat. Bagaimana melakukan variasi serangan baik melalui sayap maupun wallpass untuk menusuk ke jantung pertahanan lawan.

Memang belum sepenuhnya sempurna permainan Tim Garuda Merah-Putih. Tetapi modal untuk menjadi tim yang kuat dan mampu bermain bola dengan benar sudah dimiliki. Sekarang tinggal terus bagaimana konsisten dalam pembinaan ke depan.

Bahkan cara pembinaan yang dilakukan Shin Tae-yong harus ditularkan kepada semua klub-klub sepak bola yang ada. Ini penting agar ketika para pemain kembali ke klubnya, tidak semua dasar yang benar ini kemudian hilang. Kita tidak pernah akan memiliki tim nasional yang kuat apabila semua harus selalu dimulai dari titik nol.

Gambar besar
Apa yang terjadi di pembinaan sepak bola Indonesia merupakan potret kecil dari Indonesia. Dengan modal ekonomi dan modal sosial yang begitu luar biasa, Indonesia tidak heran diproyeksikan akan bisa menjadi kekuatan ekonomi nomor empat atau nomor lima besar dunia.

Tantangannya, seberapa konsisten kita mampu membangun negara ini sehingga pada saat peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia pada 2045, kita benar-benar mampu meraih Indonesia Emas. Presiden Joko Widodo menggambarkan Indonesia Emas itu sebagai Indonesia yang tidak lagi berada dalam perangkap negara berpendapatan menengah. Produk domestik bruto Indonesia pada saat itu mencapai 7 triliun dollar AS dan pendapatan per kapita rakyat Indonesia sebesar 25 ribu dollar AS.

Target itu sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu muluk. Kalau Indonesia bisa tumbuh rata-rata enam persen per tahun, maka target itu akan bisa diraih. Persoalannya, lebih terletak kepada prasyarat yang harus bisa dipenuhi.
Pertama, dibutuhkan rasa percaya diri dari seluruh masyarakat. Tidak bisa kita hidup dalam suasana saling menyalahkan dan selalu mengeluh. Bangsa Indonesia harus keluar dari perangkap “blaming and complaining society” seperti sekarang ini.

Bahwa banyak hal yang masih harus dibenahi dan dikritik, tentunya silakan dilakukan. Dalam era demokrasi, kebebasan berekspresi itu dibenarkan. Namun hal itu jangan membuat seakan-akan bangsa ini tidak berdaya dan tidak ada hal positif yang dimiliki. Kalau semuanya dianggap salah dan tidak ada benarnya, maka kita akan menjadi bangsa yang tidak pernah memiliki kepercayaan diri.

Kedua, kelemahan yang dimiliki selama 76 tahun Merdeka adalah belum mampunya kita membangun institusi yang kuat. Kita harus terus memperkuat proses institusionalisasi agar institusi yang ada semakin profesional dan sesuai dengan kaidah tata kelola pemerintahan, governance, yang berlaku di seluruh dunia. 

Dalam proses pembangunan institusi ini dibutuhkan kesabaran seperti halnya membangun sebuah tim sepak bola. Jangan sebentar-sebentar ada keinginan untuk merombak, menghapuskan, dan bahkan mengganti dengan yang baru. Konsistensi dalam proses pembangunan dibutuhkan, karena pada akhirnya sistem membutuhkan orang dan orang membutuhkan sistem demi tercapainya masa depan yang lebih baik itu.

Roma tidak dibangun dalam satu malam. Indonesia yang modern, maju, dan menyejahterakan rakyatnya pun tidak mungkin dilakukan dalam sekejap. Bahkan Indonesia yang adil dan makmur itu merupakan “never ending business”. Yang terpenting jangan pernah bangsa Indonesia kehilangan harapan dan jangan pernah berhenti mencintai Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore