Mengapa sepak bola menjadi cabang olahraga paling popular di muka Bumi? Salah satu alasannya karena sepak bola selalu diwarnai dengan drama dan kontroversi. Sepak bola sejak dulu tidak hanya menarik apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Bahkan drama dan kontroversi dibiarkan hidup menjadi sebuah cerita yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas.
Tidak terkecuali Piala Dunia 2022 yang sudah berakhir sejak Minggu (18/12) lalu. Cerita tentang Lionel Messi dan Argentina yang menjadi juara dunia, tidak habis-habisnya menjadi pembicaraan.
Kontroversi pertama tentang sah atau tidaknya Argentina menjadi juara dunia. Surat kabar Prancis L’Equipe membuat laporan yang menyebutkan, gol ketiga Argentina yang dicetak Leo Messi seharusnya dianggap tidak sah. Mengapa? Karena ketika tendangan Lautaro Martínez di menit ke-108 diblok Kiper Hugo Lloris dan bola muntah kemudian disambar Leo Messi, dua pemain cadangan Argentina berada di dalam lapangan.
Pasal 3 ayat 9 peraturan sepak bola menyebutkan: wasit harus menganulir gol yang tercipta dan memberikan tendangan bebas ketika ada pemain yang tidak sah di dalam lapangan. Tendangan bebas dilakukan dari titik di mana pemain tidak sah itu berada.
Menurut L’Equipe, Wasit asal Polandia Szymon Warciniak seharusnya dibantu oleh Wasit VAR menganulir gol di masa perpanjangan waktu itu. VAR seharusnya bisa melihat jelas pelanggaran yang dilakukan pemain cadangan Argentina.
Kontroversi kedua adalah ketika Leo Messi menerima Piala Dunia dari Presiden FIFA Gianni Infantino. Sebelum menerima piala, Leo Messi “dijadikan” Sheikh dengan dipasangkan jubah kebesaran oleh Emir Qatar, Sheikh Tamim.
Bintang Inggris Gary Lineker yang menjadi komentator BBC, menyebutkan sebagai tindakan “memalukan” karena kostum La Albiceleste jadi tertutup jubah hitam. Mantan bintang Argentina, Pablo Zabaleta juga berpendapat: “Mengapa harus diberi jubah? Tidak ada alasan untuk melakukan itu.”
Sementara masyarakat Arab juga mempertanyakan, mengapa jubah kehormatan bangsa Arab harus dipasangkan kepada pemain sepak bola. Sebab “Bisht” itu hanya dipakai oleh keluarga kerajaan di Arab.
Menjadi “Sheikh”
Apa pun cerita yang mewarnai keberhasilan Argentina menjadi juara dunia untuk ketigakalinya, La Albiceleste sudah membawa pulang Piala Dunia. Buenos Aires tumpah ruah dan bahkan sempat chaos oleh lautan manusia ketika Leo Messi dan kawan-kawan kembali ke Argentina.
Leo Messi pun menjadi legenda sepak bola yang sempurna. Sebuah perjuangan panjang seorang anak berusia 13 tahun yang pergi merantau ke Eropa dan pada usianya ke-35 akhirnya mampu menyejajarkan diri dengan bintang-bintang besar untuk mengangkat Piala Dunia.
Kini Leo Messi bisa pensiun dengan tenang karena benar-benar menjadi “Sheikh Sepak Bola”. Banyak pemain yang menjadi bintang besar, tetapi tidak pernah menjadi “Raja”. Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Johan Cruyff, Michel Platini, Zico, Karl-Heinz Rummenigge merupakan bintang besar yang tidak pernah merasakan nikmatnya menjadi juara dunia.
Kalau ada orang yang paling pantas diberi ucapan terima kasih oleh Leo Messi karena membawanya menjadi “Sheikh” adalah Emiliano Martínez. Kiper Argentina itu menjadi penentu bagi La Albiceleste untuk menjadi yang terbaik di dunia.
Tidak tanggung-tanggung dua kali Martínez menjadi penentu kemenangan Argentina. Pertama di perempat final ketika ia mematahkan tendangan penalti dua pemain Belanda untuk membawa timnya lolos ke delapan besar. Kedua, di pertandingan final di mana ia dua kali juga menghadang tendangan penalti pemain Prancis untuk membuat La Albiceleste menjadi juara dunia.
Ketika para pemain lain berlari mengejar Gustavo Montiel yang memastikan kemenangan Argentina, Leo Messi memilih untuk merayakan keberhasilan bersama Martínez yang bersimpuh di sebelah kiri gawang. Ia memeluk erat kiper asal Aston Villa itu karena berkat kecekatannya membaca arah tendangan, dirinya menjadi “Sheikh Sepak Bola” yang sempurna.
Hidup susah
Perjalanan hidup Martínez jauh lebih berat dibandingkan Leo Messi. Orangtuanya yang hidup di Mar del Plata begitu miskin, sehingga untuk makan sehari-hari pun penuh perjuangan.
“Saya pernah mendengar ayah saya menangis di tengah malam karena tidak mampu membayar tagihan. Bahkan sering saya melihat ayah dan ibu saya memilih puasa demi saya dan adik saya, Alejandro bisa makan,” cerita Martínez kepada surat kabar The Telegraph.
Perjuangan hidup yang berat itu membentuk pribadi Martínez. Apalagi pemain yang dipanggil rekan-rekannya Dibu itu, hampir satu dekade berjuang untuk menjadi kiper utama. Selama 10 tahun dikontrak Arsenal, enam kali ia dipinjamkan ke klub-klub lain.
Nasib Dibu baru berubah ketika kiper utama Arsenal Bernd Leno cedera menjelang final Piala FA 2020. Martínez menjadi benteng yang kukuh untuk membawa Arsenal merebut Piala FA dengan mengalahkan Chelsea 2-1.
Penampilan gemilang Dibu membuat ia sebulan kemudian dikontrak Aston Villa dengan nilai transfer 20 juta pound sterling. Konsistensi penampilan Martínez sebagai kiper utama Villa membuat Pelatih Argentina Lionel Scaloni yakin bahwa inilah kiper utama yang ia butuhkan.
Scaloni tidak keliru karena Dibu menjadi salah satu penentu keberhasilan La Albiceleste memenangi Copa America 2021. Itu bukan hanya menjadi gelar internasional pertama Leo Messi bersama Argentina, tetapi kemenangan pertama La Albiceleste atas Brasil dalam turnamen besar sejak 28 tahun terakhir.
Martínez sadar bahwa dalam pertandingan sepak bola, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknik, tetapi juga kekuatan mental. Apalagi dalam adu tendangan penalti, faktor psikologis yang lebih menentukan.
Untuk membuyarkan konsentrasi penendang penalti, Dibu tidak pernah ragu meneror sang algojo penalti. Di semifinal Copa America, ia menggagalkan tiga penendang penalti Kolombia, Davinson Sanchez, Yerry Mina, dan Edwin Cardona dengan psy-war yang ia lakukan.
“Maaf bro, saya akan mematahkan penalti kamu,” teriak Martínez sebelum Sanchez melakukan tendangan. Sementara saat Mina hendak melakukan tendangan, Dibu berkata: “Kamu gugup kan? Saya lihat kamu tertawa karena kamu gugup. Saya sudah baca ke arah mana kamu akan menendang dan saya pasti akan bisa tangkap.”
Pada pertandingan final Piala Dunia 2022, teror itulah yang membuat pemain Prancis juga gagal. Ia buang bola jauh-jauh ketika pemain Les Blues berjalan ke titik putih. Ia datangi sang algojo penalti untuk diteror mentalnya.
Wasit Warciniak pun sempat tidak tahan atas gaya teror yang dilakukan Martínez. Ia tanpa ampun mengeluarkan kartu kuning kepada Kiper Argentina itu. Namun teror Martínez cukup untuk membuyarkan konsentrasi Kingsley Coman dan Aurelien Tchouameni. Argentina pun menang lagi adu tendangan penalti dan Leo Messi menjadi “Sheikh Sepak Bola”.
Sang “Raja Teror” ditunggu kiprah lanjutannya di Liga Premier. Aston Villa berharap mendapatkan juga tuah kiper berusia 30 tahun itu saat menjamu Liverpool pada “boxing day” Senin malam atau Selasa dinihari WIB.


