Perginya “Pahlawan Sepak Bola” Brasil

Share This Post

Tidak ada pemain sepak bola yang ditetapkan negaranya sebagai “harta berharga nasional”. Hanya Pele yang dinyatakan sebagai “harta nasional”. Konsekuensinya Pele dilarang untuk bermain di luar Brasil dan sepanjang kariernya harus mengabdi kepada negara.

Presiden Brasil Janio Quadros yang menetapkan keputusan itu pada 1961. Bahkan untuk memperkuat kebijakannya dikeluarkan Undang-Undang khusus untuk Pele. Ia sepenuhnya menjadi “anak negara”.

Keputusan luar biasa itu diambil karena Pele-lah yang menjadikan Brasil sebagai negara sepak bola dunia. Meski memiliki bakat sepak bola yang begitu luar biasa, Brasil sempat tidak pernah menjadi juara dunia. Bahkan ketika Piala Dunia diselenggarakan di Brasil pada 1950, Tim Samba kalah di pertandingan puncak dari negara tetangganya, Uruguay.

Seluruh Brasil berduka ketika mereka gagal di rumahnya sendiri. Semua orang meratapi malapetaka di Stadion Maracana ketika itu. Termasuk ayah Pele, Joao Ramos do Nascimento atau biasa dipanggil  Dondinho, yang merupakan pemain klub Bauru di Sao Paulo.

Pele yang nama lengkapnya Edson Arantes do Nascimento baru berusia 10 tahun saat Tim Samba gagal mengangkat Piala Jules Rimet di Piala Dunia 1950 itu. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya sampai menangis sesengukan seperti itu. Namun di dalam hatinya Pele berjanji untuk membahagiakan ayahnya.

Meski hanya bermain dengan telanjang kaki, Pele dikenal memiliki bakat sepak bola yang luar biasa. Ia mampu membuat penonton berdecak kagum ketika tampil dalam pertandingan anak-anak antarkampung.

Dondinho yang awalnya tidak terlalu memperhatikan kelebihan putranya, kemudian memoles keterampilan sepak bola Pele. Bahkan sering Pele diminta menendang bukan bola, tetapi buah mangga yang ada di pohon.

Dari ayahnya Pele belajar mengenai filosofi samba. Bahwa bermain sepak bola adalah sebuah kegembiraan, sehingga harus dimainkan dengan penuh keriangan. Melakukan akrobat juga bukan sesuatu yang ditabukan.

Itulah yang menjadikan sepak bola di dalam diri Pele sebagai sebuah keindahan. Nama Pele menjadi identik dengan sepak bola indah, jogo bonito. I

Sempat dikecam

Ketika pertama kali dibawa untuk bergabung dengan Santos, Pele sempat ditegur karena akrobat bola yang ia mainkan. Cara seperti itu dinilai tidak efisien dan membuang-buang peluang. Bahkan Pele sempat nyaris frustasi dan berniat meninggalkan Santos.

Namun Pelatih Kepala Santos Lula tertarik kepada gaya permainan Pele. Bahkan kemudian memasukkan Pele sebagai pemain utama saat ia berusia 15 tahun. Debutnya pada 7 September 1956 melawan Corinthians membawa Pele mencetak gol perdana dan setelah itu ia mencetak lebih dari seribu gol sepanjang kariernya. Sebuah prestasi yang spektakuler hingga sekarang ini.

Sepak bola indah yang dipertontonkan Pele dan prestasinya sebagai pencetak gol terbanyak Liga Brasil pada musim berikutnya membuat Pelatih Brasil Vicente Feola pun terpesona. Ia pun memasukkan nama Pele ke dalam tim nasional dan dibawa ke Swedia untuk memperkuat Tim Samba di Piala Dunia 1958.

Anak muda yang kurus dan kecil sempat ditertawakan penonton di Swedia karena dianggap tidak meyakinkan. Pele baru dimainkan  pada pertandingan ketiga babak penyisihan saat Brasil bertemu Uni Soviet. Pada penampilan perdana di Piala Dunia Pele memang tidak mencetak gol, namun ia memberikan dua assists kepada bintang Brasil, Vava. Ketika  Pele mencetak gol kemenangan Brasil di perempat final atas Wales, tetap saja ia dianggap sebagai pemain biasa saja.

Baru di semifinal saat bertemu Prancis, mata dunia terbelalak melihat kehebatan Pele. Ia mencetak hat-trick ke gawang Prancis untuk menjadikannya pemain termuda yang bisa melakukan itu di ajang Piala Dunia.

Pele pun mulai menjadi pujaan penonton saat di final menyumbangkan dua gol indah bagi Brasil. Gol pertamanya dicetak dengan mencungkil bola untuk melewati kepala pemain belakang tuan rumah dan sebelum bola jatuh ke tanah ia melepaskan tendangan voli ke pojok gawang Kiper Karl-Oskar Svensson.

Gelandang Swedia Sigvard Parling dengan jujur mengatakan: “Ketika Pele mencetak gol kelima bagi Brasil di pertandingan final 29 Juni 1958 itu, saya harus jujur mengatakan saya pun kagum kepadanya. Saya ikut senang ketika ia mencetak gol keduanya di pertandingan final.”

Brasil pun larut dalam pesta kemenangan yang luar biasa setelah memastikan pertama kali mengangkat Piala Jules Rimet. Dondinho pun kembali menangis, namun air mata yang keluar kali ini adalah air mata bahagia. Apalagi salah satu yang ikut menentukan keberhasilan Brasil adalah putra kesayangannya, Pele. Sejarah pun kemudian. menorehkan bahwa Pele merupakan pemain termuda yang bisa ikut mengangkat Piala Dunia yakni saat ia berusia 17 tahun 429 hari.

Menjadi inspirasi

Pele pun menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Brasil bahwa tidak ada yang mungkin untuk bisa diraih. Meski hidup di tengah kemiskinan, Pele mampu menjadi sosok yang sukses dalam hidupnya  dan membahagiakan orangtua serta keluarganya.

Ketika pertama kali mendapat uang sebagai pemain profesional di Santos, hal yang pertama dilakukan Pele adalah membelikan ibunya, Celeste Arantes peralatan listrik. Ia kirim mesin jahit, mesin cuci, dan kulkas untuk membahagiakan ibunya yang harus menjadi pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarganya.

Setelah sukses menghipnotis pecinta sepak bola Eropa di Piala Dunia 1958, klub-klub besar seperti Real Madrid, Juventus, Manchester United, Inter Milan mencoba memboyong Pele ke Eropa. Namun kontrak dengan Inter Milan yang sudah sempat ditandatangani terpaksa dibatalkan karena terjadi penolakan yang luar biasa dari pendukung Santos. Atas berbagai penolakan terhadap pelepasan Pele bermain di luar negeri, Presiden Quandros membuat undang-undang yang melarang bintang muda sepak bola itu untuk meninggalkan Brasil.

Kehebatan Pele tidak pudar karena tidak bermain di Liga Eropa. Ia tetap sukses untuk membawa Santos sebagai klub terbaik di Brasil dan Amerika Latin. Bahkan Pele menjadi satu-satu pemain yang tiga kali mampu ikut mengangkat Piala Dunia, sebuah prestasi yang tidak bisa diraih bintang besar seperti Diego Maradona maupun Lionel Messi sekali pun.

Itulah yang membuat Pele selalu menjadi icon sepak bola. Perhatiannya kepada perkembangan sepak bola pun tidak pernah surut. Di tengah kanker colon yang dideritanya beberapa tahun terakhir ini, Pele masih memberikan dukungan kepada Tim Samba yang tampil di Piala Dunia 2022 Qatar. Ia berjanji untuk bisa bertahan dan ingin melihat Neymar dan kawan-kawan untuk mengangkat Piala.

Doa dari para pemain Brasil bagi kesembuhan Pele pun selalu dipanjatkan. Para pemain Brasil membentangkan spanduk bertuliskan nama Pele dan foto Pele di Piala Dunia 1970 setelah mengalahkan Korea Selatan di 16 Besar.

Namun harapan tim asuhan Tite untuk mempersembahkan Piala Dunia bagi Pele gagal diraih. Tim Samba harus tersingkir di perempat final setelah kalah dalam adu tendangan penalti melawan Kroasia.

Dua puluh hari setelah kekalahan menyesakkan Brasil itu, Pele pun berpulang ke haribaan-Nya. Pele boleh pergi untuk selamanya, tetapi sepak bola indah yang ia tampilkan akan selalu dikenang sepanjang masa.

“Saya dilahirkan untuk bermain sepak bola, sama seperti Beethoven yang dilahirkan untuk bermain musik dan Michelangelo yang dilahirkan untuk melukis,” salah satu ucapan Pele yang tidak pernah terlupakan.

Selamat jalan Pele! Beristirahatlah dengan damai di rumahmu yang abadi!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More To Explore