Pertama Kroasia, kemudian Belgia, lalu Spanyol, dan Sabtu malam giliran Portugal yang merasakan kerasnya batu karang Maroko. Tidak ada satu pun dari keempat kesebelasan terbaik Eropa yang mampu menembus gawang Singa Atlas.
Maroko bukan hanya muncul sebagai tim Afrika pertama yang menembus empat besar Piala Dunia, tetapi menjadi kebanggaan masyarakat Arab di seluruh dunia. Semua orang kini berharap Maroko bisa meneruskan kejutannya pada semifinal Rabu malam atau Kamis dinihari WIB saat bertemu juara bertahan Prancis.
Pelatih Maroko Walid Regragui menyadari, tim asuhannya menjadi harapan dunia untuk membuat perubahan besar. “Kami kini menjadi tim yang paling dicintai di Piala Dunia karena kami mampu menunjukkan kepada dunia bahwa meski kami tidak memiliki banyak bakat, tidak memiliki banyak uang, tetapi kami mampu membangun tim yang baik,” kata pelatih yang mantan pemain nasional Maroko itu.
“Kalau pernah menyaksikan film “Rocky”, kami kini ibarat Rocky Balboa. Ketika ia sedang bertanding di atas ring, semua penonton pasti mendukung Rocky. Saya merasa seperti Rocky di ajang Piala Dunia. Seluruh dunia sekarang mendukung Maroko,” tambah Regragui.
Pelatih Maroko itu memuji disiplin dan kegigihan anak-anak asuhannya saat turun bertanding. Mereka sangat luar biasa dan kadang sulit dipercaya kalau mereka kini bisa menembus empat besar.
“Saya merupakan orang yang selalu berupaya terlihat tegar di lapangan untuk menguatkan mental para pemain. Tetapi ketika menembus semifinal, air mata haru tidak bisa tertahan lagi keluar dari pelupuk mata saya,” ujar Regragui.
Kiper Maroko Yassine Bounou menilai salah satu kunci sukses dari timnya sampai sejauh ini adalah keberhasilan pelatih untuk menanamkan sikap percaya diri. “Pelatih selalu mengingatkan kami untuk membuang jauh-jauh sikap inferior. Kami telah berhasil mengubah mentalitas diri kami dan generasi mendatang akan sadar bahwa para pemain Maroko punya kemampuan untuk menciptakan keajaiban,” ujar Bono yang dua kali terpilih sebagai pemain terbaik yakni saat menyingkirkan Spanyol dan Portugal.
Kejayaan AC Milan
Melihat penampilan Maroko di Piala Dunia, teringat akan gaya bermain AC Milan pada masa jaya saat ditangani Arrigo Sacchi. Memang di tim asuhan Regragui tidak ada pemain bintang seperti Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Tetapi keutuhan bermain sebagai sebuah tim berhasil dibangun Regragui di kesebelasan Singa Atlas.
Sacchi merupakan penganut paham bahwa semua pemain harus memiliki kemampuan bermain dalam posisi di mana pun. Semua pemain harus mampu membangun kolektivitas dan menjadi satu kesatuan baik saat bertahan maupun menyerang. Zonal marking menjadi sistem yang dipakai Sacchi.
Di tangan Sacchi, AC Milan memiliki pertahanan catenaccio yang sangat kokoh dengan Paolo Maldini-Alessandro Costacurta-Franco Baresi-Mauro Tassotti sebagai pilar di belakang. Namun pada saat yang bersamaan, Milan memiliki daya gedor yang luar biasa dengan Van Basten sebagai “mesin gol”, Gullit sebagai penopang dan Roberto Donadoni-Carlo Ancelotti-Rijkaard sebagai jangkarnya.
Milan pernah hampir 60 kali tidak terkalahkan karena lawan kesulitan untuk mengembangkan permainan. Dengan jarak antara pemain paling belakang dan paling depan maksimum 25 meter, memang pemain lawan selalu mendapat tekanan karena harus memainkan bola pada ruang yang sempit.
Kalau pemain lawan bergerak terlalu cepat, mereka akan terperangkap jebakan off-side. Tim lawan benar-benar harus memiliki teknik bola yang tinggi dan perpindahan bola yang cepat dari kaki ke kaki kalau ingin keluar dari tekanan para pemain Milan.
Walaupun belum sesempurna Milan, permainan seperti itulah yang diterapkan Maroko di Piala Dunia 2022. Para pemain Singa Atlas langsung masuk dalam formasi bertahan ketika mereka kehilangan bola. Regragui sangat disiplin untuk selalu mengingatkan anak asuhannya menjaga satu kesatuan tim dan mengatur jarak yang tidak berjauhan d antara para pemain.
Yahia Attiat Allah-Romain Saiss-Sofyan Amrabat-Jawad El Yamiq-Achraf Hakimi selalu berada dalam satu garis dan naik atau turun secara bersamaan untuk mempersempit ruang permainan lawan. Sementara dua penyerang sayap Sofiane Boufal dan Hakim Ziyech turun untuk membantu Azzedine Ounahi dan Selim Amallah menjaga lapangan tengah.
Hanya ujung tombak Youssef En-Nesyri yang ditinggal di depan agar siap menjebol gawang lawan ketika serangan balik dilancarkan. En-Nesyri merupakan penyerang yang bandel dan tangguh serta memiliki insting yang tinggi. Tiga gol ia mampu sarangkan ke gawang lawan dalam lima pertandingan yang ia mainkan sehingga menjadi pencetak gol terbanyak Maroko di ajang Piala Dunia. Gol yang ia ciptakan ke gawang Portugal begitu luar biasa dan lompatan tinggi untuk menyambut umpan silang Attiat-Allah persis seperti lompatan Cristiano Ronaldo di masa jayanya.
Dalam permainan dengan tempo tinggi yang melelahkan, kadang pemain Maroko sempat lengah untuk menjaga kesatuan tim. Tetapi mereka bisa cepat menyadari kelemahan dan akibatnya, mereka hanya satu kali kebobolan saat menghadapi Kanada, itu pun karena gol bunuh diri.
Siapa tidak kenal Belgia dengan Eden Hazard dan Kevin de Bruyne sebagai motornya. Kroasia dengan Luka Modric dan Ivan Perisic sebagai pengatur serangan. Juga Spanyol dengan Sergio Busquets dan Pedri yang menjadi pengendali. Bahkan maha bintang Ronaldo dan Bruno Fernandes yang menjadi andalan Portugal, tidak mampu untuk bisa menembus pertahanan Maroko dan menjebol gawang Bono.
Prancis harus lebih kreatif dan memanfaatkan kecepatan yang mereka miliki apabila ingin membongkar pertahanan Maroko di semifinal nanti. Namun Maroko sudah terlanjur memiliki kepercayaan diri dan apabila mampu mempertahankan gaya bermain seperti AC Milan ini, bukan mustahil mereka bisa membuyarkan mimpi Prancis menjadi juara dunia dua kali berturut-turut.



2 thoughts on “Fenomena Maroko dan Arrigo Sacchi”
Bagus mas. Boleh dimuat di sinarharapan.co?
Suwun nggih.
Salam BC
Silahkan saja