Halaman muka “Media Indonesia” edisi 5 Agustus 2021 menampilkan satu halaman berwarna hitam. Hanya ada satu batu nisan di bagian bawah bertuliskan: “Kasus kematian pasien covid-19 di Indonesia melampaui 100.000 nyawa.”
Angka 100 ribu tentu bukan sekadar sebuah bilangan angka. Itu jumlah yang sangat besar. Kita kehilangan 100 ribu warga yang sebenarnya sangat dibutuhkan Indonesia untuk menatap masa depan yang lebih baik. Kita memang harus merasa kehilangan, meski hanya satu warga yang harus meninggal karena covid-19. Apalagi jika orang itu ada pada usia yang masih produktif.
Berapa banyak investasi yang sudah kita keluarkan untuk mempersiapkan orang itu menjadi motor penggerak pembangunan. Semua ini harus menghardik kesadaran kita bersama tentang bahayanya ancaman pandemi covid-19. Kalau semua diminta untuk menjaga diri, membatasi pergerakan dan bahkan keluar rumah, semua itu bukan dimaksudkan untuk membatasi kebebasan.
Pemerintah setiap minggu terpaksa melakukan pembatasan kegiatan masyarakat, karena kita tidak ingin lebih banyak warga bangsa ini yang harus menjadi korban keganasan covid-19. Kita ingin putra-putra terbaik bangsa bisa selamat agar ketika pandemi berakhir kita mempunyai kemampuan untuk segera bangkit kembali.
Kehilangan orang-orang yang kita cintai semakin sering terjadi. Itu tentunya menjadi beban tersendiri terutama bagi keluarga. Semakin banyak orang yang harus kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Tidak sedikit anak-anak yang kemudian harus menjadi yatim-piatu. Pandemi covid-19 bukan hanya memberikan dampak yang luar biasa kepada kesehatan dan perekonomian. Yang tidak boleh kita lupakan adalah dampak sosial yang diakibatkan. Terutama kepada anak-anak yang kehilangan figur orangtuanya. Padahal mereka membutuhkan sentuhan orangtua untuk menapaki perjalanan ke depan.
Cinta kasih
Satu yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah generasi yang kehilangan cinta kasih. Pelukan ibu dan kasih sayang seorang ayah menjadi bagian yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.
Hasil studi yang dilaporkan The Lancet menyebutkan, hingga akhir April 2021, sedikitnya dua juta anak di dunia terdampak pandemi covid-19, baik karena harus kehilangan orangtuanya atau kakek-nenek yang merawatnya.
Negara-negara yang anak-anaknya paling menderita karena pandemi covid-19 adalah Peru (1 anak per 100 anak, total 98.975 anak), Afrika Selatan (5 anak per 1.000, total 94.625 anak), Meksiko (3 per 1.00”, total 141.132 anak), Brasil (2 per 1.000, total 130.363 anak), Kooombia (2 per 1.000, total 33.293 anak), Iran (>1 per 1.000, total 40.996 anak), AS (>1 per 1.000, total 113.708 anak), dan Rusia (1 child per 1.000, total 29.724 anak). Dengan jumlah anak yatim piatu yang meningkat menjadi dua kali lipat pada pertengahan 2021 dibandingkan 2020, menjadi pertanyaan bagaimana lalu masa depan mereka? Harus ada upaya khusus untuk mencegah jangan sampai mereka menjadi generasi yang hilang.
Untuk itu setiap negara diusulkan segera melakukan pendataan agar bisa dipetakan secara pasti berapa jumlah anak yang terkena akibat langsung oleh pandemi covid-19. Jumlah data yang pasti akan memudahkan negara untuk melakukan upaya penanganannya.
Charles Nelson, seorang profesor dari Universitas Harvard, mengingatkan pentingnya hadir organisasi yang merawat anak-anak yang harus kehilangan orangtua mereka. Ini penting untuk perkembangan otak sang anak sehingga masa depannya bisa diselamatkan.
Rumah-Rumah Yatim Piatu perlu dibangun bukan sekadar untuk membuat mereka bisa bertahan hidup. Harus ada model penanganan khusus yang membuat sang anak tidak sampai kehilangan rasa kasih sayang yang dibutuhkan untuk menyertai pertumbuhannya. Bahkan negara harus memikirkan pendidikan dari anak-anak korban pandemi covid-19. Mereka harus bisa dijaga harapannya, tumbuh dalam lingkungan yang penuh kegembiraan dan keceriaan, serta tidak tenggelam dalam kesedihan dan kemuraman masa depannya.
Inisiatif baru
Kita pantas mengapresiasi langkah yang dilakukan Ainun Najib dan kawan-kawan untuk membuat gerakan “Kawal Masa Depan”. Ketika berbicara dalam webinar “Anak Muda Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” yang diselenggarakan KBRI Singapura Rabu (4/8), Ainun Najib mengatakan, ia terpanggil menghindarkan anak-anak korban pandemi Covid-19 kehilangan masa depannya.
Seperti gerakan “Kawal Pemilu” dan “Kawal Covid-19, gerakan“Kawal Masa Depan” Ainun Najib ini harus dibantu seluruh lapisan masyarakat. Menurut Ainun, itu bisa dimulai dengan melaporkan tetangga di sekitar rumah kita yang menjadi yatim-piatu. Dari data yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia, bisa kita ketahui jumlah anak yang perlu kita selamatkan dan di mana lokasi mereka berada.
Selanjutnya, langkah yang dipersiapkan Ainun bagi tiga kelompok. Pertama mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengumpulkan donasi. Uang yang terkumpul akan dipakai untuk membiayai sekolah anak-anak yang kini harus menjadi sebatang kara.
Langkah kedua yang akan dilakukan Gerakan Kawal Masa Depan adalah mempersiapkan program mentoring. Semua anggota masyarakat yang punya keahlian khusus diajak untuk menjadi semacam “orangtua asuh”. Mereka diminta untuk mendampingi sang anak dengan mentransfer keterampilan yang dimiliki sampai anak itu kemudian berhasil.
Ketiga, membentuk modal ventura yang bisa memberikan keterampilan, pekerjaan, bahkan melahirkan perusahaan rintisan (start-up) baru. Ainun Najib terinspirasi oleh entrepreneur teknologi, Austen Allred yang membangun Lambda School di Utah, AS. Allred sendiri terinspirasi oleh konsep yang dikembangkan ahli ekonomi Milton Friedman pada 1950-an dengan apa yang dinamakan “human capital contract”. Anak-anak yang ingin menempuh pendidikan tidak harus membayar uang sekolah. Ia baru mencicil biaya sekolah ketika kelak sudah bekerja.
Kegiatan yang Allred lakukan sejak Juli 2017 dimulai dengan mengajak anak-anak yang tidak mempunyai biaya sekolah untuk belajar coding. Ia percaya semua orang bisa menjadi coder, sepanjang mereka mau untuk mengerjakannya. Terbukti banyak orang yang kemudian sukses setelah mengikuti pendidikan yang dilakukan secara online di Lambda School. Bahkan mereka mampu membayar biaya sekolahnya sebesar 30.000 dollar AS karena hanya dipotong 17 persen dari gaji yang diperolehnya.
Ainun Najib percaya model “gratis bayar sekolah sampai mendapat pekerjaan” bisa menjadi salah satu solusi untuk mencegah jangan sampai anak-anak korban pandemi covid-19 kehilangan masa depan mereka. Kepedulian ini harus dihidupkan karena ada lebih dari 100.000 anak yang sekarang tiba-tiba menjadi yatim-piatu. Social entrepreneurship perlu dikembangkan karena tidak mungkin hanya mengandalkan negara untuk memecahkan masalah ini. Sekarang ini saja perhatian pemerintah lebih terfokus kepada penanganan kesehatan dan ekonomi.
Kita tidak boleh membiarkan persoalan sosial akibat pandemi covid-19 meledak kemudian. Apalagi kehidupan ini akan terus berjalan dan kita tidak bisa menunggu anak-anak korban covid-19 ini baru kita pikirkan setelah pandemi kelak berakhir. Sementara kita tidak pernah bisa memperkirakan kapan pandemi ini akan berakhir.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada 2000 pernah melontarkan gagasan pembentukan global compact untuk menangani tantangan global di masa mendatang. Kofi Annan berpandangan, semua tantangan yang ada tidak mungkin hanya diselesaikan pada level negara. Harus ada kontribusi dari pemangku kepentingan yang lain. Kerja sama tiga sektor menjadi kunci untuk menjawab tantangan masa depan. Negara, dunia usaha, dan masyarakat madani harus membangun sikap saling percaya, saling mengerti, dan saling menghormati demi terciptakan langkah bersama menghadapi tantangan masa depan.
Tantangan nyata yang kita hadapi sekarang ini, bagaimana menjawab persoalan kesehatan, ekonomi, dan sosial akibat pandemi covid-19.


